Fera Komalasari

Beranda » Uncategorized » Hujan

Hujan

Arsip

Kategori

Hujan… susah mendiskripsikannya. Saat masih kecil dulu saya suka sekali berlari-lari menggunakan CD dan baju dalam mencari dimana atap rumah tetangga yang banyak tumpahan air hujannya. Kalau hujannya besar, saya suka ngekor orang dewasa untuk mandi hujan di jalan raya dekat rumah. Bukan satu atau dua orang tapi banyak sekali. Kalau hujan sedang turun saya sangat bahagia dan menikmati sensasi mandi hujan yang amat segar dan menyenangkan dengan teman2 sebaya. Saya ingat kapan terakhir kali mandi hujan dengan hanya menggunakan celana dalam dan baju dalam berwarna putih transparan. Ketika itu anak2 seusia saya tidak lagi bermain hujan. 2004/2005. Moment saat saya masih menginjak bangku MTs kelas VII. Masih segar diingatan. Itu adalah terakhir kali saya menikmati mandi hujan sebagai anak-anak yang belum mengerti apa itu busana haha..  Belum ada yang saya takutkan karena masih terhitung anak-anak.  Saya berlari kesana kemari sembari menengadah sesekali ke langit, mendongak dan menutup mata. Diatas kepala saya jatuh air hujan dari seng rumah tetangga. Betapa indahnya. Masa kecil yang begitu membuat saya bahagia ketika melihat hujan.
Sore ini hujan dirumah. This is December. Bulan turunnya hujan. Saya menyaksikan anak-anak yang sedang bermain hujan di luar. Betapa bahagianya mereka. Tapi mereka tidak berpakaian seperti pakaian mandi hujan ala zaman saya dahulu. Zaman sekarang anak kecil saja sudah malunya pake banget huhu…

image

image

Hujan… aku belum bisa mendiskripsikannya. Hanya saja ada begitu banyak rindu yang tumpah bersama derasnya hujan yang turun. Ada luka, bahagia, tawa, tangis, dan ribuan rasa bergantung dan jatuh bersama butiran2 air.
Hujan… entah kali keberapa hadirmu membuat hatiku luka berdarah. Terkadang bahagia tak tertahankan. Terkadang perasaan haru yang mendalam bahkan memori usang yang kau siram hingga bersih kembali….
Hujan… Engkau tak sama dengan langit. Kalian berbeda. Tapi aku menyukai kalian berdua. Aku selalu bisa melihat langit yang sama dengan orang yang aku rindukan. Sehingga jika aku merindukan seseorang, aku hanya perlu menatap langit karena dia juga melihat langit yang sama. Sedangkan engkau… aku tak selalu bisa merasakan bahkan melihat hal yang sama dengan orang yang aku rindukan….
Tapi apa kau tahu jika kau begitu istimewa? Kau istimewa karena engkau seperti embun yang meneduhkan jika kau datang. Aku ingin dalam kehidupakku kelak akan ada seseorang yang membuatku merasa aman dan nyaman. Perasaan yang sama sepertimu hujan… Engkau teduh. Segalamacam bara api akan padam dengan kehadiranmu…. Salam rinduku untuk orang2 terkasihku. Untuk saudara2ku dang kedua orang tuaku hujan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

Desember 2015
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

follow My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: