Life Balance

Beranda » 2015 » Juni

Monthly Archives: Juni 2015

Sebuah doa dimalam tahajjud

Rabbi… Apakah ketika Kau memanggilku kelak aku dapat melihat wajah indahMu?
Rabbi… Tidak tahukah Engkau bahwa Engkau adalah Kekasih hatiku yg sangat kucintai?
Rabbi… Apakah ketika Kau memanggilku kelak, Kau akan memelukku? Aku menghayalkan pelukan hangat dariMu…
Aku lemah Rabb-ku
Aku lemah tiada daya dan upaya
Setiap kegagalan membuatku tersadar bahwa aku memang lemah tanpa bantuanMu
Rabbi… Ambil hambaMu ini dalam keadaan khusnul khotimah…
Jadikanlah aku pribadi baik sehingga dapat berjumpa denganMu
Aku tidak meminta surga Ya Rabb… Aku hanya meminta berjumpa denganMu
Aku tidak memint kenikmatan surga
Aku hanya meminta berjumpa denganMu
Dan kapan saja akau dapat berbicara denganMu kelak
Aku ingin berjumpa dengan Siti Maryam, seorang wanita yg sangat aku kagumi…
Aku tak ingin menyebutnya surga tpi aku hanya ingin bersama orang-orang yang aku cintai Ya Rabbi. 

Tanya hati apakah Ia benar-benar dalam ketaatan pada Rabb-Nya. Semoga kau selalu dalam lindunganNya.

Gita dan Demam Hari Pertama

Demam berat. Panas tubuhnya serasa berada disamping bara api. Aku mencari termometer tapi tak ku temukan. Entah dimana barang kecil berwarna biru putih itu. Seingatku aku menaruhnya didalam lemari. Aneh sekali. Padahal baru dua minggu yang lalu aku membelinya. Aku tak mau dipusingkan dengan benda kecil itu. Aku tak menduga itu sebagai demam sebelumnya pasalnya badannya memang selalu hangat. Sore itu, Kamis cerah, aku berangkat menuju kampus setelah film setengah usai. Yasinan disekret Prima setiap kamis sore. Tapi ini baru pertama kali aku datang untuk yasinan kesekret. Sekalian karena ada undangan rapat kecil untuk tutor kelas. Katanya, UKM KMHD (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma) mengundang kami para tutor Riset untuk mengisi kelas workshop PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) pada hari minggu besok. Aku melangkah dengan hati yang riang. Disana aku menemukan beberapa orang yang memang langganan sekret. Ada adik bimbingan PKM ku juga yang PKM-K nya lolos didanai dikti. Tadi pagi aku menyuruhnya datang ke sekret pada sore harinya karena katanya Ia ingin konsultasi untuk monev satu minggu lagi. Seperti biasa, ada saja hal yang ku rasa kurang dari adik-adik bimbingan jika mereka tidak didampingi dengan benar. Letaknya pada bab Hasil: Bab 4. Well… Saya rasa letak kurangnya disitu. Ria teman seperjuanganku juga rupanya sedang terburu-buru. Ia menyerahkan map hijau yang tadi pagi kami berikan ke rektorat. Map rekomendasi. Ia segera melangkah keluar, pamit, katanya akan menyelesaikan laporan kemajuan untuk monev, PKM-Penelitiannya lolos pendanaan. Ada juga firdaus didalam, dia tidak terlihat terburu-buru meski monev sebentar lagi. Dia lolos pendanaan PKM-K. Orang-orang didalam ruangan itu memang sudah langganan dikti. Ya… Wajar saja karena mereka anak-anak Penalaran dan Riset ya pekerjaan mereka kurang lebih seputar itu. Jika menyebut monev, maka aku mengingat kejadian presentasi monev tahun lalu. Miris. Aku sedang bekerja sebagai BANKER alias TELLER disebuah bank BUMN Juni 2014 silam. aku tidak dapat presentasi karena berbenturan dengan hari aku bekerja dan salah seorang rekan dari teman kelompokku menggantikan aku pada waktu itu. Jujur, targetky adalah PIMNAS UNDIP 2014 ketika itu. Aku lolos dua pendanaan PKM-K dan salah satu kelompok mengatakan jikalau aku izin tidak ikut presentasi. Hanya sati tim saja yang menggantikan aku. Entah apa yang kurasa. Aku menempuh perjalanan sejauh 28 Kilo dari tempat kerja menuju Mataram hanya untuk presentasi. Aku tiba jam 5 sore di Mataram. Akan tetapi, memang malang, mereka sudah presentasi pada siang hari. Hanya bisa menghela nafas panjang. Padahal, aku sudah latihan maksimal untuk presentasi monev.
Setelah keadaan sekret aman terkendali, aku segera menuju wisma di Gomong untuk memberitahu temanku tentang perkara rekomendasi. Baiklah..  Aku pulang kerumah sekitar jam 9 malam. Setiba di rumah… Aku sempat heran, mengapa adikku tidka memberi makan kelinci peliharaannya. Jangan sampai kelinci itu mati seperti yang terjadi beberpa waktu yang lalu. Kelinci jantan saudara kelinci betina itu mati karena adik misanku memainkannya entah setajam apa. Itu terjadi pada hari Selasa dan kemudian pada hari Rabu, kelinci itu mati sedangkan saudara kelinci yang masih hidup itu kaki dan tangannya pincang. Sungguh menyedihkan. Aku tak tega melihatnya. Aku berkata pada bibiky sembari mencari adikku, mana Gita? Mengapa ia tidak memeberi makan pada kelincinya? Apa ia tidak takut kalau kelincinya akan mati lagi? Bibiku lantas menjawab bahwa adikku demam dan ia sudah memberikan paracetamol. Sontak aku kaget dan langsung menemuinya dikamar adik misanku, Fitri.
Benar saja, suhu tubuhnya tinggi sekali. Aku langsung membawanya kekamar. Ternyata adikku benar demam. Aku kira yang terjadi siang tadi itu bukan demam. Pantas saja matanya merah dan seperti orang yang akan menangis saja…