Fera Komalasari

Beranda » Uncategorized » HUDZAIFAH IBNUL YAMAN

HUDZAIFAH IBNUL YAMAN

Arsip

Kategori

 

( Seteru Kemunafikan, Kawan Keterbukaan )
 

Penduduk kota Madinah berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mu’minin Umar radhiyallah ‘anhu.

Mereka pergi menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai keshalihan dan ketaqwaannya . · ·,begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak… ·

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah

Demi ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka tahu bahwa orang itu tidak lain adalah Hudzaifah ibnul Yaman, maka mereka jadi bingung dan hampir-hampir tak percaya Tetapi apa yang akan diherankan … ? Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar radhiyallah ‘anhu, Hal itu dapat difahami, karena baik di masa keraiaan Persi yang terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya corak pemimpin semulia ini . · · ·!

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu meneruskan perjalanan sedang orang-orang berkerumun dan mengelilinginya….

Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah menunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya:”Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah ….!”

Ujar mereka: “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah “

Ujarnya: “Pintu-rumah para pembesar ….! Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan ….!”

Suatu pernyataan yang luar biasa di samping sangat mena’jubkan … .! Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya daripada kemunafikan …. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta sistem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan ….

Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu memasuki arena kehidupan ini dengan bekal tabi’at istimewa. antaraciri-cirinyaialahanti kemunafikan,danmampumelihatjejakdangejalanyawalau tersembunyiditempat-tempatyangjauhsekalipun….

Semenjakiabersamasaudaranya,Shafwan,menemanibapaknyamenghadapRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamdanketiganyamemelukIslam, sementaraIslammenyebabkanwataknyabertambahterang dancemerlang…,makasungguh,iamenganutnyaitusecara teguhdansuci,sertalurusdangagahberani,dandipandangnya sifat  pengecut,  bohong  dan  kemunafikan  sebagaisifatyang rendahdanhina….

IaterdidikditanganRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamdengankalbuterbuka takubahbagaicahayashubuh,hinggataksuatupundaripersoalanhidupnyayangtersembunyi.Takadarahasiaterpendam dalamlubukhatinya…,seorangyangbenardanjujur,mencintaiorang-orangyangteguhmembelakebenaran,sebaliknya mengutukorang-orangyangberbelit-belitdanriya,orang-orang culasbermukadua….!

IabergauldenganRasullulahShallallahu ‘alaihi wa sallam dansungguh,takada lagitempatbaikdimanabakatHudzaifahinitumbuhsubur danberkembangsebagaihalnyadiarenaini,yaknidalam pangkuanAgamaIslam,dihadapanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamdanditengah-tengah golonganbesarKaumperintis darishahabat-shahabatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam…..

Bakatnyainibenar-benartumbuhmenurutkenyataan….hinggaiaberhasilmencapaikeahliandalammembacatabi’at danairmukaseseorang.Dalamwaktuselintaskilas,iadapat menebakairmukadantanpasusahpayahakanmampumenyelidikirahasia-rahasiayangtersembunyisertasimpananyang terpendam….

Kemampuannyadalamhalinitelahsampaikepadaapayang diinginkannya,hinggaAmirulMu’mininUmarradhiyallah ‘anhu yangdikenal sebagaiorangyangpenuhdenganinspirasiseorangyang cerdasdanahli,seringjugamengandalkanpendapatHudzaifah radhiyallahu ‘anhu, begitupulaketajamanpandangannyadalammemilihtokoh danmengenalimereka.

SungguhHudzaifahradhiyallahu ‘anhu telahdikaruniaifikiranjernih,menyebabkannyasampaipadasuatukesimpulan,bahwa dalamkehidupaninisesuatuyangbaikituadalahyangjelasdangamblang, yaknibagiorangyangbetul-betulmenginginkannya.Sebaliknya yangjelekialahyanggelapatausamar-samar,dankarenaitu orangyangbijaksanahendaklahmempelajarisumber-sumber kejahataninidankemungkinan-kemungkinannya….

Demikianlah  Hudzaifah  radhiyallah ‘anhu terus-menerusmempelajari kejahatandanorang-orangjahat,kemunafikandanorang-orang munafiq.Berkatalahia:

“Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.

Pernah kubertanya:”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini…, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan …?“”Ada ..” ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi-kebaikan …?’: tanyaku pula. “M lemang, tetapi kabur dan bahaya …”. “Apa bahaya itu ….?” “Yaitu segolongan ummat mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk  bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah …’: “Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada lagi kejahatan ….?’: tanyaku pula.

“Masih’: ujar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “yakni para tukang seru di pintu neraka.  Barangsiapa  menyambut seruan  mereka,  akan mereka lemparkan ke dalam neraka…!”

Lalu kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulallah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian….?”Ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:’Senantiasamengikuti jama’ah KaumMuslimindanpemimpinmereka…!”

“Bagaimanakalaumerekatidakpunyajama’ahdantidak pulapemimpin….?”“Hendaklahkamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian …!”

Nah,tidakkahandaperhatikanucapannya:”Orang-orang menanyakankepadaRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamtentangkebaikan,tetapi sayamenanyakankepadanyatentang kejahatan, karenatakut akanterlibatdidalamnya…!”?

HudzaifahibnuYaman radhiyallahu ‘anhu menempuhkehidupaninidengan mataterbukadanhatiwaspadaterhadapsumber-sumberfitnah danliku-likunyademimenjagadiridanmemperingatkanmanusia terhadapbahayanya.Dengandemikianiamenganalisakehidupan duniainidanmengkajipribadiorangsertamerabasituasi…

Semuamasalahitudiolahdandigodokdalamakalpikirannya laludituangkandalamungkapanseorangfilosofyang’arifdan bijaksana.

Berkatalahia:

“SesungguhnyaAllahTa’alatelahmembangkitkanMuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam.Makadiserunyamanusiadarikesesatankepada kebenaran,darikekafirankepadakeimanan.Laluyang menerimamengamalkannyalah,hinggadengankebenaran ituyangmatimenjadihidup….,dan dengankebatilan yanghidupmenjadimati…! Kemudianmasakenabian berlalu,dandatangmasakekhalifahanmenurutjejakbeliau….,dansetelahitutibazamankerajaanyangdurjana. Diantaramanusiaadayangmenentang,baikdenganhati maupundengantangansertalisannya….makamerekalah yangbenar-benar menerimayanghaq….

Dandiantaramerekaadayangmenentangdenganhati danlisannya  tanpamengikutsertakantangannya,maka golonganinitelahmeninggalkansuatucabangdariyang haq….Danadapulayangmenentangdenganhatinya semata,tanpamengikutsertakantangandanlisannya,maka golonganinitelahmeninggalkanduacabangdariyanghaq ….Danadapulayangtidakmenentang,baikdenganhati maupundengantangansertalisannya,makagolonganini adalahmayat-mayatbernyawa….!”

Iajugaberbicaratentanghati,danmengenaikehidupannya yangberolehpetunjukdanyangsesat,katanya: “Hatiituadaempatmacam:

Hatiyangtertutup, itulahdiahatiorangkafir….
Hatiyangduamuka,itulahdiahatiorangmunafiq….
Hatiyangsucibersih,disanaadapelitayangmenyala,itulah diahatiorangyangberiman
Danhati yangberisikeimanandankemunafikan.

Perumpamaan keimananituadalahlaksanasebatangkayuyangdihidupi airyangbersih,sedangkemunafikanitutakubahnyabagai bisulyangdiairidarahdannanah.Makamanadiantara keduanyayanglebihkuat,itulahyangmenang….!”

PengalamanHudzaifahradhiyallahu ‘anhuyangluastentangkejahatandan ketekunannyauntukmelawandanmenentangnya,menyebabkanlidahdankata-katanyamenjaditajamdanpedas.Halini diakuinyakepadakitasecaraksatria,katanya:

“SayadatangmenemuiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, katakupadanya:

WahaiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,lidahkuagaktajamterhadapkeluargaku, dansayakhawatirkalau-kalauhalituakanmenyebabkan sayamasukneraka….MakaujarRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:KenapakamutidakberistighfarSungguh,sayaberistighfarkepadaAllahtiaphariseratusKali…

Nah, inilah dia Hudzaifah radhiyallah ‘anhu musuh kemunafikan dan shahabat keterbukaan … · Dan tokoh semacam ini pastilah imannya teguh dan kecintaannya mendalam. Demikianlah pula halnya Hudzaifah radhiyallah ‘anhu, dalam keimanan dan kecintaannya…. Disaksikannya bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud …, dan di tangan srikandi Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangkanya sebagai orang musyrik… .!

Hudzaifah radhiyallah ‘anhu melihat dari jauh pedang sedang dihunjamkan kepada ayahnya, ia berteriak: “ayahku … ayahku ….jangan ia ayahku “…. Tetapi qadla Allah telah tiba…… Dan ketika Kaum Muslimin mengetahui hal itu, mereka pun diliputi suasana duka dan sama-sama membisu. Tetapi sambil memandangi mereka dengan sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, katanya: “Semoga Allah mengampuni tuan-tuan, Ia adalah sebaik-baik Penyayang.”

Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya …. Akhirnya peperangan pun usailah dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Maka disuruhnya membayar diyat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah radhiyallah ‘anhu (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu ini dan disuruh membagikannya kepada Kaum Muslimin. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap dirinya ….

Keimanan dan kecintaan Hudzaifah radhiyallah ‘anhu tidak kenal lelah dan lemah …. bahkan juga tidak kenal mustahil …. Sewaktu perang Khandaq …,yakni setelah merayapnya kegelisahan  dalam  barisan  kafir  Quraisy dan sekutu-sekutu mereka dari golongan yahudi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud hendak mengetahui perkembangan terakhir di lingkungan perkemahan musuh-musuhnya ….

Ketika itu malam gelap gulita dan menakutkan …,sementara angin topan dan badai meraung dan menderu-deru, seolah-olah hendak mencabut dan menggulingkan gunung-gunung sahara yang berdiri tegak di tempatnya ….Dan suasana di kala itu mencekam hingga menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan, mengundang kekecewaan dan kecemasan, sementara kelaparan telah mencapai saat-saat yang gawat di kalangan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam….

Maka siapakah ketika itu yang memiliki kekuatan apa pun kekuatan itu yang berani berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh di tengah-tengah bahaya besar yang sedang mengancam, menghantui dan memburunya, untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam, yakni untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan mereka…?

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih di antara para shahabatnya, orang yang akan melaksanakan tugas yang amat sulit ini! Dan tahukah anda, siapa kiranya pahlawan yang dipilihnya itu …? Itulah dia Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallah ‘anhu ..!

Ia dipanggil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan tugas, dan dengan patuh dipenuhinya…. Dan sebagai bukti kejujurannya, ketika ia mengisahkan peristiwa tersebut dinyatakannya bahwa ia mau tak mau harus menerimanya ….Hal itu menjadi petunjuk, bahwa sebenarnya ia takut menghadapi tugas yang dipikulkan atas pundaknya serta khawatir akan akibatnya.

Apalagi bila diingat bahwa ia harus melakukannya dalam keadaan lapar dan timpaan hujan es, serta keadaan jasmaniah yang amat lemah, sebagai akibat pengepungan orang-orang musyrik selama satu bulan atau lebih .. .!

Dan sungguh, peristiwa yang dialami oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu malam itu, amat mena’jubkan sekali! Ia telah menempuh jarak yang terbentang di antara kedua perkemahan dan berhasil menembus kepungan …, lalu secara diam-diam menyelinap ke perkemahan musuh …. Ketika itu angin kencang telah memadamkan alat-alat penerangan pihak lawan hingga mereka berada dalam gelap gulita, sementara Hudzaifah radhiyallah ‘anhu telah mengambil tempat di tengah-tengah prajurit musuh itu…

Abu Sufyan, yakni panglima besar Quraisy, takut kalau-kalau kegelapan malam itu dimanfaatkan oleh mata-mata Kaum Muslimin untuk menyusup ke perkemahan mereka. Maka ia pun berdirilah untuk memperingatkan anak buahnya…. Seruan yang diucapkan dengan keras kedengaran oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu dan bunyinya sebagai berikut:

“Hai segenap golongan Quraisy, hendaklah masing-masing kalian memperhatikan kawan duduknya dan memegang tangan serta mengetahui siapa namanya·!”

Kata Hudzaifah radhiyallah ‘anhu: “Maka segeralah saya menjabat tangan laki-laki yang duduk di dekatku, kataku kepadanya: “Siapa kamu ini …?” Ujarnya: “Si Anu anak si Anu …”

Demikianlah Hudzaifah radhiyallah ‘anhu mengamankan kehadirannya di kalangan tentara musuh itu hingga selamat.

Abu Sufyan mengulangi lagi seruan kepada tentaranya, katanya:  “Hai orang-orang Quraisy, kekuatan kalian sudah tidak utuh lagi …. Kuda-kuda kita telah binasa…,demikian juga halnya unta. Bani Quraidhah telah pula mengkhianati kita hingga kita mengalami akibat yang tidak kita inginkan. Dan sebagaimana kalian saksikan sendiri, kita telah mengalami bencana angin badai: periuk-periuk berpelantingan, api menjadi padam dan kemah-kemah berantakan Maka berangkatlah kalian sayapun akan berangkat”
Lalu ia naik ke punggung untanya dan mulai berangkat, diikuti dari belakang oleh tentaranya.

Kata Hudzaifah radhiyallah ‘anhu: “Kalau tidaklah pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada saya agar saya tidak mengambil sesuatu tindakan sebelum menemuinya lebih dulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah ….”

Hudzaifah radhiyallah ‘anhu kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan keadaan musuh, serta menyampaikan berita gembira itu ….

Barangsiapa yang pernah bertemu muka dengan Hudzaifah radhiyallah ‘anhu, dan merenungkan buah fikiran dan hasil filsafatnya serta ketekunannya untuk mencapai ma’rifat, tak mungkin akan mengharapkan daripadanya sesuatu kepahlawanan di medan perang at;au pertempuran ….

Tetapi anehnya dalam bidang ini pun Hudzaifah radhiyallah ‘anhu melenyapkan segala dugaan itu ….

Laki-laki santri yang teguh beribadat dan pemikir ini, akan menunjukkan kepahlawanan yang luar biasa di kala ia menggenggam pedang menghadapi tentara berhala dan pembela kesesatan ….

Cukuplah sebagai bukti bahwa ia merupakan orang ketiga atau kelima dalam deretan tokoh-tokoh terpenting pada pembebasan seluruh wilayah Irak… .! Kota-k·ota Hamdan, Rai dan Dainawar, selesai pembebasannya di bawah komando Hudzaifah radhiyallah ‘anhu ….

Dan dalam pertempuran besar Nahawand, di mana orang-orang Persi berhasil menghimpun 150 ribu tentara.., Amirul Mu’minin Umar memilih sebagai panglima Islam Nu’man bin Muqarrin, sedang kepada Hudzaifah radhiyallah ‘anhu dikirimnya surat agar ia menuju tempat itu sebagai komandan dari tentara Kufah ….

Kepada para pejuang itu Umar mengirimkan surat, katanya:”Jika Kaum Muslimin telah berkumpul, maka masing-masing panglima hendaklah mengepalai anak buahnya, sedang yang akan menjadi panglima besar ialah Nu’man bin Muqarrin …!

Dan seandainya Nu’man tewas, maka panji-panji komando hendaklah dipegang oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu …, dan kalau ia tewas pula maka oleh Jarir bin Abdillah …!”

Amirul Mu’minin masih menyebutkan beberapa nama lagi, ada tujub orang banyaknya yang akan memegang pimpinan tentara secara berurutan.

Dan kedua pasukan pun berhadapanlah ….Pasukan Persi dengan 150 ribu tentara, sedang Kaum Muslimin dengan 30 ribu orang pejuang, tidak lebih ….Perang berkobar, suatu pertempuran yang tak ada tolak bandingnya, perang terdahsyat dan paling sengit dikenal oleh sejarah …!

Panglima besar Kaum Muslimin gugur sebagai syahid Nu’man bin Muqarrin tewaslah sudah ….. Tetapi sebelum bendera Kaum Muslimin menyentuh tanah, panglima yang baru telah menyambutnya dengan tangan kanannya, dan angin kemenangan pun meniup dan menggiring tentara maju ke muka dengan semangat penuh dan keberanian luar biasa…. Dan panglima  yang  baru  itu  tiada  lain  adalah Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallah ‘anhu Bendera segera disambutnya, dan dipesankannya agar k:ematian Nu’man tidak disiarkan, sebelum peperangan berketentuan. Lalu dipanggilnya Na’im bin Muqarrin dan ditempatkan pada kedudukan saudaranya Nu’man, sebagai penghormatan kepadanya …. Dan semua itu dilaksanakannya dengan kecekatan, bertindak dalam waktu hanya beberapa saat, sedang roda peperangan berputar cepat, kemudian bagai angin puting beliung ia maju menerjang barisan Persi sambil menyerukan:

“Allahu Akbar, Ia telah menepati janji-Nya. Allah Akbar, telah dibela-Nya tentara-Nya” Lalu diputarlah kekang kudanya ke arab anak buahnya, dan berseru: “Hai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pintu-pintu surga telah terbuka lebar, siap sedia menyambut kedatangan tuan-tuan …, jangan biarkan ia menunggu lebih lama ….! Ayuhlah wahai pahlawan-pahlawan Badar….! Majulah pejuang-pejuang Uhud, Khandaq dan Tabuk….!”

Dengan ucapan-ucapannya itu Hudzaifah radhiyallah ‘anhu telah memelihara semangat tempur dan ketahanan anak buahnya, jika tak dapat dikatakan telah menambah dan melipatgandakannya ….

Dan kesudahannya perang berakhir dengan kekalahan pahit bagi orang-orang Persi, suatu kekalahan yang jarang ditemukan bandingannya

Dialah seorang pahlawan di bidang hikmat, ketika sedang tenggelam dalam renungan …. Seorang pahlawan di medan juang, ketika berada di medan laga …. Pendeknya ia seorang tokoh, dalam urusan apa juga yang dipikulkan atas pundaknya, dalam setiap persoalan yang membutuhkan pertimbangannya.

Maka tatkala Kaum Muslimin di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallah ‘anhu hendak pindah dari Madain ke Kufah dan bermukim di sana, yakni setelah keadaan iklim kota Madain membawa akibat buruk terhadap Kaum Muslimin dari golongan Arab, menyebabkan Umar menitahkan Sa’ad segera meninggalkan kota itu setelah menyelidiki suatu daerah yang paling cocok sebagai tempat pemukiman Kaum Muslimin …, maka siapakah dia yang diserahi tugas untuk memilih tempat dan daerah tersebut …. ? Itulah dia Hudzaifah ibnul Yaman ibnul Yaman radhiyallah ‘anhu, yang pergi bersama Salman bin Ziad guna menyelidiki lokasi yang tepat bagi pemukiman baru itu …. Tatkala mereka sampai di Kufah, yang ternyata merupakan tanah kosong yang berpasir dan berbatu-batu, pernafasan Hudzaifah radhiyallah ‘anhu menghirup udara segar, maka ia berkata kepada shahabatnya: “Di sinilah tempat pemukiman itu insya Allah”

Demikianlah diatur rencana pembangunan kota Kufah, yang oleh ahli bangunan diwujudkan menjadi sebuah kota yang permai …. Dan baru saja Kaum Muslimin pindah ke sana, maka yang sakit segera sembuh, yang lemah menjadi kuat, dan urat-urat mereka berdenyutan menyebarkan arus kesehatan ….!

Sungguh, Hudzaifah adalah seorang yang berfikiran cerdas dan berpengalaman luas, kepada Kaum Muslimin selalu dipesankannya: “Tidaklah termasuk yang terbaik di antara kalian yang meninggalkan dunia untuk kepentingan akhirat, dan tidak pula yang meninggalkan akhirat untuk kepentingan dunia …. tetapi hanyalah yang mengambil bagian dari kedua-duanya.. .!”

Pada suatu hari di antara hari-hari yang datang silih berganti dalam tahun 36 Hijriah, Hudzaifah radhiyallah ‘anhu mendapat panggilan menghadap Ilahi …. Dan tatkala ia sedang berkemas-kemas untuk berangkat melakukan perjalanannya yang terakhir, masuklah beberapa orang shahabatnya. Maka ditanyakannya kepada mereka : “Apakah tuan-tuan membawa kain kafan …?”

“Ada”, ujar mereka.
“Coba lihat”, kata Hudzaifah radhiyallah ‘anhu pula.

Maka tatkala dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah pada kedua bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan, lain katanya: “Kain kafan ini tidak cocok bagiku …!

Cukuplah bagiku dua helai kain putih tanpa baju  .. .!

Tidak lama aku akan berada dalam kubur, menunggu diganti dengan kain yang lebih baik atau dengan yang lebih jelek …!

Kemudian ia menggumamkan beberapa kalimat dan sewaktu didengarkan oleh hadirin dengan mendekatkan telinga mereka, kedengaranlah ucapannya:

” Selamat datang, wahai maut… Kekasih tiba di waktu rindu …..Hati bahagia tak ada keluh atau sesalku.

Ketika itu naiklah membubung ke hadlirat Ilahi, ruh suci di antara arwah para shalihin, ruh yang cemerlang, taqwa, tunduk dan berbakti ….

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

follow My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: