Fera Komalasari

Beranda » Uncategorized » The last semester, The Last Chance

The last semester, The Last Chance

Arsip

Kategori

Senin, 14 April 2014

Mama sakit sudah hamper 1 bulan. Demam nggak turun-turun dan saya harus mengantar ke RSUP. Cukup pagi sekitar jam setengah Sembilan pagi sudah mendapat nomer antri dan mama pasien pertama. Saya kira akan menunggu cukup lama didalam akan tetapi seorang dokter muda memanggil mama ke dalam ruangan. Poli THT. Didalam ruangan itu ada tiga dokter muda perempuan dan tiga dokter muda laki-laki. Yang berbadan cukup semok namun bebusana muslimah mengambil mama sebagai pasiennya sebagai perbandingan hasil dengan dokter spesialisnya. Mama merintih kesakitan karena lidah beliau ditekan dengan alat besi.Dokter itu melakukannya cukup lama. Pemeriksaannya benar-benar butuh waktu yang lama. Ia meanyakan banyak pertanyaan hingga waktunya keluar ruangan menunggu dokter spesialis datang. Saya melihat dua lembar kertas yang Ia tulis: Status pasien poli THT RSUP. Beberapa waktu berselang…. Capek banget nunggu dari jam setengah Sembilan sampai jam sebelas spesiaisnya belum juga dating. Saya resah karena ada yang harus saya lakuan dikampus. Saya kasihan pada dokter muda yang sedang koas itu. Kalau saya tinggal, dia akan lelah lagi untuk cari pasien lain dan harus nulis lagi dilembaran seperti tadi. Kalau saya jadi dokter itu, saya pasti sedih kalau ditinggal pasien. Jadi saya harus menunggu lebih lama dan ….. mamapun dipanggil kedalam ruangan. Diperiksa oleh dokter pertama. Dokter pertama saya dengar dia memberitahu banyak hal pada dokter muda perempuan lain yang sedang koas. Kasihan,,,,, muka dokter muda itu sepertinya menciut. Ketika mama diperiksa oleh dokter itu dan ditanya, ada jawaban mama yang kepeleset dan agak berlainan dengan jawaban awal. Saya lantas menegur mama karena rupanya dokter itu menegur dokter koas yang menangani mama tadi.

“Ma…. Jangan salah jawab. Kasihan dokter mudanya”

Huft…. Pemeriksaan dilakukan oleh dokter yang lain diruangan dalam. Kali ini dokter itu sangat lembut dan bahasanya baik. Ia belum berani mendiagnosa dan mama harus menjalani dua rontgen yaitu wates dan trakea. Saya teringat kata dokter muda tadi

“Ibu disini ada dua dokter. Pertama dokter spesialis dan kedua dokter muda. Saya ingin menjadika ibu sebagai pasien saya karena saya ada ujian. saya harus cocokan hasil pemeriksaan saya dengan hasil pemeriksaan dokter spesialisnya. Ibu bisa kan?”:…

Itu kata dokter muda tadi. Dan hasilnya: Dokter muda: Pemeriksaan: rontgen wates

Dokter sspesialis: rontgen wates dan trakea.

Dan beberapa hal yang sedikit melenceng dari apa yang dokter koas tadi tulis dilembaran itu.

Karena mama hanya membawa uang untuk daftar dan tidak membawa uang untuk rontgen, kami terpaksa pulang dan akan kembali lagi besok pagi.

Sesampai di rumah saya langusng berlari kekampus. Itu sudah hamper siang. Dari parkiran saya berlari menuju arah kemahasiswaan FKIP. Disana saya langsung menanyakan tentang pendaftaran MAWAPRES. Dengan santai mereka menjawab bahwa pendaftaran terakhir dilakukan hari sabtu kemarin dan sekarang sudah hari senin. Pengumuman seleksi sudah ditempel didepan kaca kemahasiswaan dan mereka malas untuk bekerja dua kali. Saya menceritakan kronologisnya bahwa kemarin saya sudah akan mendaftar akan tetapi kemahasiswaan sudah tutup. Mereka malahan mensidak saya dan menyalahkan lagi. Saya melirik kepada Mbak yang duduk diruangan itu dimana seminggu yang lalu saya bertanya tentang MAWAPRES kepadanya. Saya berbicara banyak menyangkal perkataan apapun yang mereka katakana terhadap saya. Hingga Mbak berjilbaba itu mulai terdengar menala. Baiklah, nanti berbicara dengan bapak didalam. Selang beberapa waktu, saya masuk keruangan dalam. Disana saya disidak habis-habisan. Sebenarnya saya malas berhadapan tapi mau tidak mau saya harus melakukannya. Saya benar-benar disalahkan. Tapi saya tidak perduli.

“Iya pak, memang sudah tutup tapi kan masih boleh ada tambahan. Tahun-tahun kemarin saja masih boleh ada penambahan. Jadi mengapa tahun sekarang tidak boleh?”, Kata saya. Padahal saya tidak tahu menahu tentang mawapres tahun-tahun sebelumnya dan saya juga tidak pernah tahu tentang adanya penambahan. Saya tidak tahu apakah itu diperbolehkan atau tidak.

“Iya… itukan peraturan tahun dulu dan bukan peraturan tahun sekarang. Tahun dulu dan tahun sekarang berbeda.”

“Sama pak. Mana bisa beda. Kalau tahu dulu bisa,lantas mengapa tahun sekarang tidak?”, Jawab saya dengan tangkas karena saya sudah dapat benang merahnya dengan bapak berkata demikian.

Cas cis cus cas cis cus……                           

“Ya sudah kalau begitu. Menghadap ke Pak Faruq. Tanya apakah bisa atau tidak. Surat sudah saya serahkan ke Rektorat jadi tidak bisa sebenarnya”

“Kalau begitu sekarang saya kesana:”

Dengan penuh semangat….. saya berlari dari kemahasiswaan menuju parkiran. Tenaga full. Butuh waktu cepat untuk sampai ke Rektorat karena mengegas full. Didalam perjalanan saya berdo’a dengan penuh khusu’ dan berharap bahwa do’a saya akan diterima oleh Allah. Air mata saya rasanya hamper-hampir tumpah. Saya benar-benar merasa ini adalah kesempata terakhir saya. Hal ini saya lakukan karena saya harus melakukannya. Ini adalah kesempatan terakhir saya sebagai mahasiswa akhir karena pada tahun2 sebelumnya saya tidak pernah melakukan hal in. Demi melamar beasiswa Australia saya harus melakukan yang lebih ditahun-tahun akhir ini. Semoga Allah memberikan jalanNya. Sesampai di rektorat, ternyata hamper azan. Saya lantas berlari lagi dari parkiran rektorat menuju kemahasiswaan Rektorat. Sayangnya saya tidak menemukan Pak Faruk. Betapa sedihnya saya. Tapi ini tidak boleh berakhir disini. Saya lantas berjalan menuju ruang didepan ruang Pak Faruk untuk mencari Bapak yang sering membantu saya itu. Ternyata saya menemukan Bapak itu sedang mengetik didepan laptop. Saya memberi tahu apa maksud saya dan lantas Bapak itu berkata.

“Bisa….. Bawa surat pengentanrnya kesini”

Alhamdulillah akhirnya saya menemukan satu orang yang berkata ia. Dengan penuh rasa gembisa saya berlari dari ruangan itu menuju parkiran rektorat dan mengegas motor saya kencang hinggasaya tiba dengan sangat cepat di FKIP. Dari parkiran FKIP saya berlari kembali menuju ruang kemahasiswaan.

Disana saya memberitahu bahwa Rektorat meng- Iya kan.

“Faruq Meng iya kan? Ya sudah kalau begitu. Buat suratnya” Kata mereka

“Bukan Pak Faruq tapi bapak yang ada didepan ruang pak Faruq, Pak Hasan namanya”, Jawab saya.

“Bukan Hasan namanya. …… tapi…..”, jawab salah seorang dari mereka

“Wah kamu ini semangat ‘45”, Kata seorang dari mereka.

Akhirnya saya dipersilakan duduk. Dua puluh menit ditempat itu, tidak ada yang bergerak.

“Pak, bagaimana? Kapan suratnya dibuat. Ini sudah Siang”

“Iya, Kalau gitu tulis nama, nim, prodi dan semester”

Haha… lega….. saya nggak bawa pupen ataupun kertas jadi saya mencari didalam ruangan. Akhirnya mereka membuatkan saya suratnya. Disana saya menunggu Bapak itu mengetik dengan baiknya dan memang banyak halaman yang harus diprint. Saya adalah pendaftar ke-10. Saya memiliki 9 saingan di mawapres ini. Haha….

“Sudah selesai pak. Yang mana yang saya bawa ke rektorat?”, Tanya saya

“Nggak perlu dibawa kesana. Besok kalau hasil seleksi dari Fakultas sudah rampung dan tahu siapa juaranya, baru bisa dibawa ke Rektorat”…

Dubrak…. Perasaan tadi bilangnya itu surat sudah dibawa ke rektorat deh… tapi ini kok tiba2 jadi lain yak? Aduhh jadi ngerasaa aneh…

Baiklah… jadi saya berjalan dengan langkah gembira hari ini.

Hampir jam dua siang ketika sampai dirumah. Saya harus beristirahat karena nanti jam 4 harus bertemu dosen pembimbing skripsi. Jam 4 pun tiba dan sepulang dari kampus saya sedikit berleha2 hingga malampun tiba. Besok pagi harus berkumpul jam 8 pagi untuk tes MAWAPRES DAN SAYA HARUS MENYELESAIKAN KARYA TULIS ILMIAH MALAM INI JUGA SEBANYAK MINIMAL 15 HALAMAN yang terdiri dari 4 chapter.

(to be continued)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

follow My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: