Fera Komalasari

Beranda » Uncategorized » Kecerdasan dan IQ

Kecerdasan dan IQ

Arsip

Kategori

Apa itu Kecerdasan dan Apakah IQ itu?

Makna kecerdasan dan IQ

Makna Kecerdasan: Kecerdasan dapat didefinisikan sebagai bagian dari pikiran yang meliputi banyak kemampuan yang saling berhubungan, seperti kapasitas untuk mempertimbangkan sesuatu, untuk merencanakan, untuk menyelesaikan masalah, untuk berpikir secara abstrak, untuk memahami ide-ide, untuk mempergunakan bahasa, dan untuk belajar.

Sangat penting untuk dicatat bahwa kecerdasan bukanlah mengenai seberapa banyak pengetahuan atau keahlian yang dimiliki seseorang; tetapi lebih ke seberapa cepat seseorang mampu menyerap pengetahuan dan keahlian begitu juga dengan seberapa baik kinerja seseorang pada tugas yang bukan merupakan keahliannya.

Definisi IQ: IQ adalah pengukuran kecerdasan. IQ menganggap bahwa terdapat perbedaan kecerdasan di antara orang-orang yang berbeda dari suatu populasi dan mengekspresikannya dengan sebuah nilai dari bagaimana kecerdasan seseorang dalam hubungannya dengan keseluruhan populasi.

Nilai Kecerdasan dan Nilai Tes IQ

Banyak pendapat mengatakan bahwa kecerdasan tidak berhubungan dengan kemampuan kognitif dan banyak pula kritikan mengatakan bahwa tes IQ sebaiknya tidak digunakan untuk mengukur kecerdasan

Kritikan ini tidak sepenuhnya tanpa alasan. Benar bahwa kecerdasan tidak dapat didefinisikan dengan jelas begitu juga dihitung dengan mudah. Kontras dengan dimensi lainnya (tinggi, berat atau kekuatan otot ) yang didefinisikan dengan namanya serta dapat diukur secara objektif.

Namun, kita dapat membuat pernyataan-pernyataan tak terbantahkan mengenai IQ dan kecerdasan seperti yang tertuang dalam buku “Kurva Lonceng”: Kurva Lonceng:

  • Terdapat sebuah kemampuan kognitif umum yang membedakan manusia.
  • Semua tes-tes kecakapan akademis yang telah distandarisasikan mengukur kemampuan kognitif ini hingga beberapa tingkatan, tapi tes-tes IQ, dirancang secara jelas untuk tujuan tersebut, pengukuran tersebutlah yang paling akurat.
  • Nilai IQ cocok sekali dengan apa yang orang-orang maksud pada saat mereka menggunakan kata kecerdasan.
  • Tes IQ yang telah dipersiapkan dengan baik, tidak menunjukkan penyimpangan terhadap kelompok-kelompok sosial, ekonomi, etnik maupun ras.

IQ Sebagai Penentu Kesuksesan

Kritikan terhadap tes IQ dapat disanggah dengan keberhasilan IQ sebagai penentu keberhasilan dalam berbagai bidang.

Meskipun bukan merupakan penentu yang sempurna terhadap kesuksesan akademis maupun pekerjaan, Bahkan para kritikus mengakui bahwa ada kaitan yang kuat antara IQ dengan keberhasilan.

IQ → Kesuksesan Akademis

Tes IQ pada awalnya dirancang sebagai penunjuk kesuksesan akademis bagi murid sekolahan. Barulah kemudian di abad ke 20 penggunaannya meluas hingga ke tempat kerja.

Sementara memang benar bahwa terdapat banyak faktor lainnya yang menentukan keberhasilan di sekolah, namun IQ sering kali menunjukkan adanya korelasi yang tinggi dengan kesuksesan akademis.

IQ → Kesuksesan Profesional

IQ dapat memprediksi keberhasilan di tempat kerja. Mengukur IQ calon karyawan serta mempertimbangkan IQ ke dalam pengambilan keputusan perekrutan adalah alat yang berguna. Namun, pengaturan tes IQ untuk pekerjaan jauh lebih kontroversial daripada untuk bidang akademik.

Kurang dari 50% dari pengusaha di seluruh dunia menggunakan tes IQ sebagai sarana untuk mengevaluasi calon pekerjaan. Terdapat variasi yang beragam di antara negara. Beberapa ini adalah contohnya:

  • 55% — Cina dan Spanyol
  • 30% — India dan Perancis
  • 3% — Amerika dan Jerman

Penelitian ilmiah menunjukkan: Meskipun tes IQ bukan penunjuk yang sempurna akan keberhasilan pelamar kerja di masa yang akan datang, terdapat faktor lainnya yang relevan untuk keberhasilan pekerjaan, namun IQ harus dipertimbangkan. Dikarenakan IQ seorang kandidat berkaitan dengan keberhasilan di tempat kerja. Baru-baru ini, peneliti melakukan perbandingan efektivitas dari berbagai metode pemilihan karyawan: tes IQ, wawancara tidak terstruktur, tes kepribadian dan kuesioner biografi. Hasilnya cukup jelas: IQ merupakan prediktor terbaik dari keberhasilan kerja.

Menurut Schmidt dan Hunter, “untuk mempekerjakan karyawan yang tak memiliki pengalaman kerja petunjuk yang paling valid untuk mengetahui kualitas kinerja-nya adalah kecerdasannya”. Nilai Tes IQ memperkirakan tingkat kinerja dalam setiap bidang pekerjaan. Hal tersebut berarti, untuk kegiatan berkualifikasi tinggi (penelitian, manajemen) nilai IQ rendah cenderung menjadi penghalang dalam mendapatkan kinerja yang cukup, sebaliknya pada kegiatan berketerampilan minim, kekuatan atletis (kekuatan manual, kecepatan, stamina, and koordinasi) mereka akan lebih berpengaruh terhadap kinerja.

Dukungan terhadap bermanfaatnya IQ juga datang dari Justin Menkes dalam artikelnya di Harvard Business Review yang berjudul “Memperkerjakan Eksekutif Cerdas”. Menkes menyatakan: “terlepas dari kurangnya hasil nyata, tes-tes IQ tetap merupakan petunjuk kesuksesan manajerial yang paling baik daripada perangkat pengukuran lainnya. Keengganan dunia bisnis untuk mengunakan pengujian kecerdasan dalam bentuk apapun, telah mencuri dari perusahaan-perusahan sebuah perangkat yang sangat kuat dalam mengevaluasi kandidat untuk pekerjaan atau promosi”.

IQ → Kekayaan

Dengan baiknya IQ sebagai penunjuk kesuksesan dalam pekerjaan, secara positif juga berhubungan dengan penghasilan dan kekayaan. Apabila diringkas dapat kita katakan, semakin tinggi IQ Anda semakin tinggi juga pendapatan, kekayaan dan status sosial Anda.

IQ dari jutawan dengan kemampuan sendirinya di dunia diperkirakan sekitar 115. IQ dari milyarder dengan kemampuan sendirinya di dunia diperkirakan sekitar 120.

 

Tabel tersebut menunjukkan bahwa ada fakta mengejutkan mengenai keterkaitan IQ dengan berbagai pengalaman hidup:

  • Jika Anda ber-IQ rendah, Anda 6 kali berpeluang menjadi pengangguran daripada jika Anda ber-IQ tinggi.
  • Jika Anda ber-IQ rendah, Anda 3 kali lebih berpeluang bercerai dalam kurun waktu 5 tahun setelah menikah daripada ber-IQ tinggi.
  • Jika Anda ber-IQ rendah, Anda 16 kali lebih mungkin untuk mempunyai seorang anak di luar pernikahan daripada jika Anda ber-IQ tinggi.
  • Jika Anda ber-IQ rendah, Anda 10 kali lebih mungkin dipenjara, daripada jika Anda ber-IQ tinggi.
  • Jika Anda ber-IQ rendah, Anda 15 kali lebih mungkin untuk hidup dalam kemiskinan daripada jika Anda ber-IQ tinggi.

 

Apakah yang kita ketahui tentang Kecerdasan?

Terdapat banyak definisi dari arti kecerdasan.

  1. Asosiasi Psikologi Amerika mendefinisikan-nya sebagai berikut:
    • Tiap individu berbeda satu sama lain dalam hal kemampuan untuk memahami ide-ide yang kompleks, beradaptasi dengan lingkungan secara efektif, belajar dari pengalaman, terlibat dalam berbagai bentuk penalaran, dan mengatasi kendala dalam mengambil keputusan. Meskipun perbedaan di antara individu ini sangat nyata, namun hal ini tidak pernah pasti: performa intelektual yang diberikan oleh tiap orang akan bervariasi pada kesempatan dan wilayah yang berbeda, sebagaimana dinilai oleh kriteria yang berbeda.
    • Konsep “Kecerdasan” merupakan upaya untuk memperjelas dan mengatur fenomena yang kompleks ini. Meskipun kejelasan telah dicapai di beberapa area, tidak terdapat konsep yang mampu menjawab semua pertanyaan penting dan memperoleh persetujuan universal. Bahkan, ketika sekelompok ahli teori terkemuka diminta untuk mendefinisikan kecerdasan, mereka memberikan definisi yang berbeda-beda
  2. Definisi kedua istilah kecerdasan berasal dari “Arus Sains Kecerdasan” yang ditandatangani oleh 52 peneliti kecerdasan pada tahun 1994:

Sebuah kemampuan mental yang sangat umum, antara lain mencakup kemampuan untuk berpikir, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir secara abstrak, memahami ide-ide yang kompleks, belajar cepat dan belajar dari pengalaman. Hal ini tidak hanya berupa kecerdasan yang didapat melalui pembelajaran buku, keterampilan akademik yang seksama, atau mengikuti tes. Sebaliknya, hal tersebut mencerminkan kemampuan yang lebih luas dan menyeluruh dalam memahami lingkungan kita –“menangkap”, “memahami” sesuatu atau “memikirkan” apa yang akan dilakukan.

 

Mensa, Kalangan masyarakat yang memiliki IQ tinggi

Terdapat banyak rumor mengenai kecerdasan, termasuk kesalahan dan fakta yang tak sepenuhnya benar mengenai hal tersebut. Untuk mengakhiri kebingungan tersebut, pada tahun 1994 para peneliti ternama berkumpul dan mempublikasikan pengetahuan tentang kecerdasan pada khalayak umum. Berikut ini adalah kesimpulan dari analisis ilmiah mengenai arti kecerdasan.

Pengertian dan Ukuran Kecerdasan

  • Kecerdasan adalah kemampuan mental secara umum yang melibatkan kemampuan untuk berfikir, berencana, mengatasi masalah, berfikir abstrak, memahami ide kompleks, belajar cepat dan belajar dari pengalaman. Anugerah kecerdasan ini tidak selalu diperoleh dari pembelajaran buku, kemampuan akademik yang sempit atau test pencarian bakat. Namun, ini lebih luas dan mendalam untuk memahami lingkungan sekitar — “Menangkap”, “berfikir” tentang sesuatu atau “berfikir” apa yang akan dilakukan
  • Kecerdasan, dapat diukur, dan tes-tes kecerdasan dapat mengukurnya dengan baik. Tes-tes tersebut termasuk di antara yang paling akurat (dalam hal teknis, dapat diandalkan dan valid) diantara semua tes dan penilaian psikologi.
  • Meskipun terdapat berbagai jenis tes kecerdasan, semua tes tersebut mengukur kecerdasan yang sama. Beberapa menggunakan kata-kata atau angka dan memerlukan pengetahuan budaya khusus, yang mana tidak diperlukan pada tes lain dan sebagai gantinya menggunakan bentuk atau desain yang hanya memerlukan pengetahuan sederhana, serta konsep-konsep universal.
  • Hasil IQ tiap individu tersusun dalam satu rangkaian, dari tingkat rendah ke tinggi, yang ditampilkan dengan bentuk kurva lonceng. Banyak orang berada di kelompok rata-rata (IQ 100) dan beberapa dari mereka lebih pandai atau lebih bodoh: Sekitar 3% skor orang Amerika berada di atas IQ 130 dan persentase yang sama dibawah IQ 70

Perbedaan Kelompok IQ

  • Anggota grup ras dan etnis ditemukan di setiap tingkatan IQ. Kurva lonceng saling tumpang tindih, akan tetapi grup tersebut akan berbeda dimana para anggotanya akan membentuk garis IQ. Kurva lonceng untuk grup (Yahudi dan Asia Timur) terletak lebih tinggi dari pada rata-rata orang kulit putih. Sedangkan grup lain (Orang kulit hitam dan orang Hispanik) terletak dibawah orang berkulit putih
  • Kurva lonceng untuk orang kulit putih terletak di sekitar IQ 100; kurva lonceng untuk orang Amerika berkulit hitam sekitar 85; sedangkan mereka yang beretnis Hispanik terletak diantara orang kulit putih dan kulit hitam. Adanya bukti masih belum bisa menunjukkan dimana letak posisi orang Yahudi dan Asia yang dengan IQ 100

Pemahaman Praktis tentang IQ

  • IQ sangat terkait, bahkan mungkin lebih dari sifat manusia lain, dengan pendidikan, pekerjaan, ekonomi dan sosial. Keterkaitan terhadap kesejahteraan dan kinerja seseorang sangatlah kuat di beberapa area kehidupan (Pendidikan, dan Training Militer, ) sedang namun kuat di beberapa hal lain (Kemampuan sosial) dan sedang tapi konsisten (Ketaatan Hukum). Apapun ukuran test IQ, ini sangat penting dalam kehidupan sosial.
  • IQ tinggi merupakan sebuah keberuntungan dalam hidup sebab hampir semua aktivitas membutuhkan pemikiran dan pengambilan keputusan. Tentu saja, IQ tinggi tidak menjamin kesuksesan seperti halnya IQ rendah tidak menjamin kegagalan. Ada banyak pengecualian, namun justru jarang orang sukses dengan IQ tinggi.
  • Keuntungan praktis dari memiliki IQ yang lebih tinggi meningkat seiring pengaturan hidup yang kian kompleks (hal baru, ambigu, berubah-ubah, tak terduga, atau beragam). Misalnya, IQ tinggi umumnya diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan tingkat kesulitan yang tinggi atau pekerjaan-pekerjaan ‘basah’ (profesi kantoran, manajemen): hal ini dianggap sebuah keuntungan dalam tingkat pekerjaan yang sedang (kerajinan, juru tulis dan polisi), tetapi kurang memberikan keuntungan dalam pekerjaan yang membutuhkan pengambilan keputusan secara rutin atau pemecahan masalah sederhana (pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan khusus).
  • Perbedaan dalam kecerdasan tentu bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kinerja dalam pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan yang sangat kompleks, namun kecerdasan seringkali merupakan yang paling penting.
  • Karakter pribadi tertentu, bakat khusus, kemampuan fisik, pengalaman dan kesukaan merupakan hal penting untuk kinerja sukses dalam bekerja, namun mereka yang memiliki penerapan yang lebih sempit atau pengalihan terhadap tugas dan pengaturan jika dibandingkan dengan orang yang memiliki kecerdasan rata-rata

Sumber dan Stabilitas terhadap Perbedaan Dalam Kelompok

  • Setiap individu memiliki kecerdasan berbeda berdasarkan perbedaan lingkungan dan keturunan. Perkiraan heritabilitas berkisar dari 0.4 ke 0.8 (dari skala 0-1), yang menunjukkan bahwa genetik memiliki peran lebih besar daripada lingkungan saat menciptakan perbedaan IQ tiap masing-masing individu
  • Anggota dari keluarga yang sama juga cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda berdasarkan genetik dan lingkungan. Mereka berbeda secara genetik karena saudara biologis berbagi separuh gen dari masing-masing orang tua dan, rata-rata, hanya separuh dari masing-masing. Mereka juga berbeda tingkat IQ karena mereka berada di lingkungan berbeda meski dari keluarga yang sama.
  • Meskipun IQ dipengaruhi oleh faktor keturunan, tidak berarti IQ tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Tiap orang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang tetap dan tidak berubah-ubah. IQ akan semakin stabil seiring masa kanak-kanak, namun, biasanya akan berubah sedikit setelah itu

 

Teori Pembagian Kecerdasan dan Kekayaan Negara

Apa itu Mensa?

Mensa dibentuk di Inggris pada tahun 1946 oleh Roland Berrill, seorang pengacara, dan Dr. Lance Ware, seorang ilmuwan dan pengacara. Mereka memiliki gagasan untuk membentuk perhimpunan bagi orang-orang cerdas, dimana satu-satunya kualifikasi yang diperlukan untuk menjadi anggota ialah memiliki IQ tinggi. Tujuan awalnya ialah untuk menciptakan perkumpulan bagi orang-orang dengan kecerdasan sangat tinggi yang non-politik dan bebas dari semua perbedaan ras ataupun agama.

Apakah tujuan dari Mensa?

Mensa memiliki tiga tujuan: untuk mengidentifikasi dan mengembangkan kecerdasan manusia demi kepentingan kemanusiaan, untuk mendorong penelitian dalam hal alam, karakteristik dan penggunaan dari kecerdasan, serta untuk meningkatkan kecerdasan dan peluang-peluang sosial bagi para anggotanya.

Berapa banyak anggota yang dimiliki oleh Mensa?

Saat ini terdapat sekitar 100,000 anggota Mensa dari 100 negara di seluruh dunia. Ini menyamai 2,500,000 anggota di seluruh dunia dari perhimpunan IQ tinggi online Intelligent Elite.

Apakah arti “Mensa”?

“Mensa” berarti “meja” dalam Bahasa Latin. Nama tersebut singkatan dari Komunitas Meja Bundar, tak ada keterkaitan sama sekali dengan ras, warna kulit, keyakinan, kebangsaan, usia, politik, atau latar belakang pendidikan sosial.

Bagaimana caranya agar dapat memenuhi syarat keanggotaan Mensa?

Keanggotaan Mensa terbuka untuk orang-orang yang telah mencapai skor dua persen teratas dari populasi umum dalam tes kecerdasan yang telah disetujui yang diberikan dan diawasi dengan benar. Persyaratan IQ karenanya lebih tinggi daripada perhimpunan IQ tinggi online Intelligent Elite dimana hanya IQ di atas 10% diperlukan.

 

IQ → Sukses: Kesenjangan

Abad ke-20 lebih berfokus pada IQ, bukan EQ. Konsep IQ yang diperkenalkan pada akhir Abad ke-19, pada awalnya dipergunakan sebagai prediktor keberhasilan akademis. Dengan semakin dikenalnya konsep IQ, penggunaanya kian meluas tidak hanya sebagai prediktor keberhasilan akademis tetapi juga kesuksesan kerja.

Meskipun benar bahwa mereka yang memiliki IQ tinggi lebih besar kemungkinannya untuk meraih sukses di tempat kerja dibandingkan mereka yang ber-IQ rendah, terdapat kesenjangan besar dalam hubungan antara IQ dan keberhasilan. Banyak orang dengan IQ rendah sukses, namun banyak juga orang dengan IQ tinggi tidak berhasil. Jika Anda melihat keberhasilan di tempat kerja dan juga kesuksesan dalam kehidupan pribadi, semakin jelaslah bahwa IQ saja tidak menentukan keberhasilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, Anda dapat melihat contoh dari orang-orang dengan IQ tinggi yang tidak mampu mencapai keberhasilan dalam pekerjaan mereka meskipun kemampuan akademis mereka unggul.

  • Seorang manajer berkecerdasan tinggi tidak dapat mengendalikan emosinya ketika menemukan kesalahan yang dibuat oleh tim kerjanya. Ia berteriak pada mereka, tim kerjanya merasa ketakutan dan karenanya baik dirinya maupun tim kerjanya menjadi tidak produktif.
  • Seorang remaja berkecerdasan tinggi tidak mampu memotivasi dirinya untuk belajar. Walaupun ia memiliki kemampuan belajar yang sangat tinggi, ia hanya duduk bermain game komputer seharian. Akhirnya, dia tidak memperoleh kesuksesan dalam pelajarannya dan putus sekolah.
  • Seorang programmer komputer yang cerdas diharuskan untuk bekerja sama dengan programmer lain dalam sebuah proyek. Meskipun ia memiliki keterampilan program yang hebat, ia tidak dapat berkomunikasi secara efektif dengan tim kerja lainnya. Hasil pekerjaannya tidak memuaskan meskipun kemampuan dan tingkat kecerdasannya tinggi.
  • Seorang peneliti dengan tingkat kecerdasan yang tinggi dipromosikan ke posisi manajemen di bidangnya. Meskipun keterampilan penelitiannya sempurna, ia pemalu dan takut untuk berbicara di depan orang banyak. Karena rasa percaya dirinya rendah, ia tidak dapat memimpin kelompok sehingga hasil keseluruhan dari fasilitas penelitian tersebut tidak memuaskan.

Dari semua kasus diatas, Anda dapat melihat individu dengan IQ tinggi tidak berhasil mencapai kesuksesan karena masalah yang berhubungan dengan emosi: kurangnya pengendalian emosi, kurangnya motivasi, kurangnya keterampilan berkomunikasi serta kurangnya keterampilan kepemimpinan.

Terdapat banyak keterampilan penting untuk meraih kesuksesan yang tidak berhubungan dengan IQ. Dan semua keterampilan ini berhubungan dengan emosi. Kesadaran ini mengantarkan kita pada konsep EQ.

 

Sejarah EQ

Konsep EQ dikembangkan sekitar tahun 1990. Sebelumnya perhatian selalu tertuju pada IQ. Konsep IQ itu sendiri dikembangkan sekitar tahun 1900an. Pada tahun 1900, Alfred Binet salah satu penemu konsep IQ, mulai melakukan tes IQ bagi anak-anak sekolahan. Pada tahun 1918, Angkatan Perang Amerika mulai melakukan tes IQ bagi semua pendaftar. Pada dekade berikutnya IQ menjadi semakin dikenal, sehingga menjadi sebuah istilah yang dikenal luas oleh sebagian besar masyarakat.

Dari tahun 1900 ke 1990, perhatian terpusat hanya pada IQ dan bukan terhadap EQ. Sekitar tahun 1990, orang-orang mulai menyadari bahwa IQ bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan. Ada komponen penting lainnya yang tidak dapat disentuh oleh IQ. Bagaimanapun, tidak terdapat konsep terpadu dari komponen lain yang mempengaruhi kesuksesan tersebut.

“Success Intelligence”, sebuah konsep yang dikembangkan oleh Howard Gardner adalah usaha pertama untuk memasukkan faktor emosional ke dalam IQ. Menurut Gardner, IQ baru dapat memprediksi sukses jika mengikut sertakan komponen lainnya di luar “verbal”, “matematika” dan “visual”. “Success Intelligence” dari Gardner tersebut, memiliki tujuh komponen:

  1. Verbal / Linguistik
  2. Logis / Matematika
  3. Visual / Grafis
  4. Musikal
  5. Jasmani / Kinestetik
  6. Interpersonal
  7. Intrapersonal

Tiga komponen pertama (verbal/bahasa, logis/matematika, visual/grafis) sudah termasuk ke dalam konsep dasar IQ. Komponen musikal dan jasmani/kinestetik mencerminkan tingkat keterampilan umum dalam aktivitas musik dan olah raga. Dua komponen terakhir yaitu kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, berhubungan dengan emosi dan merupakan langkah pendahulu dari munculnya EQ yang ada saat ini.

Barulah pada tahun 1990, Salovey dan Mayer memperkenalkan istilah “Emotional Intelligence”. Mereka merumuskan Emotional Intelligence IQ, EIQ, yang merupakan IQ berdiri sendiri. Namun EQ baru dikenal setelah Daniel Goleman menerbitkan buku dengan penjualan tinggi “Emotional Intelligence” di tahun 1995. Buku tersebut menarik perhatian publik akan konsep EQ dan memicu penerbitan artikel dan buku dengan tema serupa. Di akhir tahun 1990an, kecerdasan emosional menjadi salah satu perbincangan hangat dalam dunia psikologi. Dan sekarang ini EQ lebih dikenal sebagai pengukuran atas sekumpulan keterampilan penting; pengakuan akan pentingnya hal ini dalam menentukan kesuksesan sangatlah jelas.

 

Uraian Lengkap mengenai Psikologi Manusia

IQ + Kepribadian (tanpa EQ)

Selama lebih dari 100 tahun, psikolog telah mengukur IQ. Bahkan dalam kurun waktu yang lebih lama , psikolog telah mengukur kepribadian manusia. IQ dan kepribadian dianggap perlu untuk menggambarkan psikologi manusia secara penuh. Tes kepribadian mengukur ciri kepribadian yang ada dan tes IQ mengukur kemampuan intelektual. Ini dianggap sebagai ukuran lengkap psikologi manusia.

Namun, sebelum konsep EQ diperkenalkan, terdapat sebuah “kesenggangan”: Ada beberapa jenis keterampilan yang bukan merupakan bagian dari keterampilan IQ juga bukanlah bagian dari kepribadian. Sangatlah jelas bahwa IQ tidak berkorelasi kuat dengan kesuksesan. Telah lama diketahui bahwa terdapat faktor-faktor lain selain IQ yang dapat menjelaskan kesuksesan, dan juga kebanyakan faktor-faktor ini berhubungan dengan emosi. Akan tetapi, faktor-faktor ini seringnya dipandang sebagai bagian dari kepribadian.

Sebagai contoh, seseorang dengan tingkat kecerdasan rendah masih mungkin meraih sukses sebab ia adalah seorang yang “berbaur dengan orang lain” atau karena ia sangat bermotivasi. Seseorang dengan tingkat kecerdasan tinggi mungkin saja gagal karena ia seorang pemalu atau pemalas.

Bagaimanapun juga, kriteria di atas bukanlah merupakan ciri kepribadian melainkan “keterampilan kepribadian”. Seseorang mungkin saja memiliki kepribadian introvert namun bisa “berbaur dengan orang lain”. IQ dan EQ menggambarkan tingkatan keterampilan, namun tidak menggambarkan kepribadian. Kepribadian menggambarkan ciri yang tetap dari kepribadian seseorang. Ciri ini tidak berhubungan dengan keterampilan. Baik IQ maupun kepribadian tidak dapat mengukur keterampilan yang membentuk EQ.

IQ + Kepribadian + EQ

Penambahan konsep EQ ke dalam konsep kepribadian dan kecerdasan telah melengkapi cara pandang kita mengenai psikologi manusia. Sekarang para ahli kejiwaan mengetahui bahwa setiap orang memiliki satu kepribadian, satu tingkatan IQ dan satu tingkatan EQ.

 

Kepribadian menggambarkan karakter seseorang; contohnya introver, ekstrover, “pemikir”, atau “perasa”. Jika anda ingin tahu kepribadian anda, ikutilah test kepribadian Swiss 16 PT secara gratis!

Test IQ digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan anda. Ini menganalisa kemampuan anda dalam berfikir logis, menyerap informasi, menyampaikan pelajaran, dan mengatasi masalah dan merupakan cara tepat untuk memperkirakan kesuksesan anda di sekolah tapi tidak tepat untuk memprediksi kesuksesan dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Test EQ digunakan untuk mengetahui tingkat ketrampilan emosi anda. Ini menganalisa kemampuan anda untuk memahami emosi, mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, memahami situasi sosial dan berkomunikasi dengan baik terhadap sesama. Ini cara tepat untuk memprediksi kesuksesan dalam kehidupan pribadi namun kurang tepat, untuk memprediksi keberhasilan dalam sekolah atau pekerjaan. Akan tetapi, kombinasi IQ dan EQ adalah cara tepat untuk memprediksi keberhasilan di sekolah, pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Tiga lingkaran pada diagram diatas saling tumpang tindih. Ini menunjukkan bahwa meskipun EQ, IQ dan kepribadian tidak saling terkait, ada semacam hubungan antara mereka. Orang-orang yang memiliki kepribadian “pemikir” cenderung memiliki skor IQ yang tinggi namun memiliki skor EQ lebih rendah daripada orang yang memiliki kepribadian “penuh perasaan”. Ini tak berarti bahwa setiap orang yang perasa memiliki EQ lebih tinggi dan IQ rendah, akan tetapi ada kesamaan diantara dua hal tersebut.

Orang-orang dengan tingkat IQ yang rendah cenderung memiliki EQ yang rendah pula; seiring dengan IQ yang meningkat, EQ pun bertambah pula. Akan tetapi, ketika skor IQ menjadi sangat tinggi, EQ pada umumnya menurun. Ini tak berarti bahwa orang-orang ber-IQ rendah adalah orang yang memiliki EQ tinggi atau tidak ada orang genius yang memiliki EQ tinggi, akan tetapi demikianlah yang menjadi trend pada penelitian global.

 

Kompetensi Emosional

Tidak ada kompetensi satu pun yang menunjukkan EQ anda. Pada dasarnya test EQ terdiri atas lima komponen:

  1. Kesadaran Diri
  2. Manajemen Diri
  3. Auto Motivasi
  4. Kesadaran Sosial
  5. Manajemen Relasi

 

 

Apa itu kecerdasan emosi?

Emotional Intelligence (EI), sering disebut sebagai Emotional Intelligence Quotient (EQ), menggambarkan kemampuan untuk merasakan, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain dan kelompok.

Mendefinisikan Kecerdasan Emosional

Terdapat banyak argumentasi mengenai pengertian dari EI. Sampai saat ini, terdapat tiga model utama dari EI:

  • Model EI Berdasarkan Kemampuan
  • Gabungan Model EI
  • Model EI Berdasarkan Sifat

Model Berdasarkan Kemampuan

Konsep Salovey dan Mayer yang digunakan untuk mendefinisikan EI dengan kriteria standard mengenai sebuah konsep kecerdasan baru. Melalui riset yang berkesinambungan, definisi EI kemudian direvisi menjadi: “Kemampuan untuk menerima emosi, menyatukan emosi untuk berfikir, memahami emosi dan mengatur emosi untuk pengembangan kepribadian.

Kemampuan berdasarkan tampilan emosi digunakan sebagai sumber informasi yang bermanfaat untuk membantu seseorang mengerti dan mengendalikan lingkungan sosial. Model tersebut menjelaskan bahwa tiap orang itu berbeda tergantung dari kemampuan mereka untuk mengolah informasi dan mengaitkan proses emosi ke pengertian yang lebih luas. Kemampuan ini terlihat dalam sikap adaptasi tertentu.

Model ini mengemukakan bahwa EI meliputi 4 jenis kemampuan:

  • Menyadari Emosi: kemampuan untuk mendeteksi dan menguraikan emosi pada wajah, gambar, suara, dan artefak-artefak budaya – termasuk didalamnya kemampuan untuk mengidentifikasi emosi yang dimiliki seseorang. Menyadari emosi mewakili aspek dasar dari kecerdasan emosional, karena membuat semua pengolahan informasi emosional lainnya memungkinkan.
  • Menggunakan Emosi: kemampuan untuk memanfaatkan emosi untuk memudahkan berbagai kegiatan kognitif, seperti berpikir dan pemecahan masalah. Orang dengan kecerdasan emosional dapat sepenuhnya diandalkan karena dapat mengubah ‘mood’ yang paling sesuai dengan pekerjaan yang sedang ditanganinya.
  • Memahami Emosi: kemampuan untuk memahami bahasa emosi dan untuk menyadari hubungan yang rumit di antara emosi. Sebagai contoh, pemahaman emosi meliputi kemampuan untuk sensitif pada variasi emosi, dan kemampuan untuk mengenali dan menggambarkan bagaimana emosi berkembang dari waktu ke waktu.
  • Mengelola Emosi: kemampuan untuk mengatur emosi baik dalam diri kita maupun orang lain. Karenanya, orang dengan kecerdasan emosional dapat memanfaatkan emosi, bahkan emosi yang negatif serta mengelolanya untuk pencapaian tujuan.

Model Gabungan EI

Model Kompetensi Emosional

Model EI yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman ini berfokus pada EI sebagai serangkaian kompetensi dan keterampilan yang mendorong kinerja manajerial, diukur oleh penilaian multi-penilai dan penilaian diri (Bradberry dan Greaves, 2005). Dalam bekerja dengan Emotional Intelligence (1998), Goleman mengeksplorasi fungsi EI dalam pekerjaan, dan menegaskan EI sebagai prediktor terkuat atas kesuksesan di tempat kerja, konfirmasi terbaru dari penemuan ini pada sampel dari seluruh dunia ditampilkan pada Bradberry dan Greaves, “The Emotional Intelligence Quick Book”” (2005).

Model Goleman menguraikan empat susunan utama EI:

  • Kesadaran diri: Kemampuan untuk membaca emosi seseorang dan mengenali dampaknya saat menggunakan intuisi dalam menentukan keputusan.
  • Manajemen Diri: Mengendalikan emosi dan dorongan hati seseorang serta beradaptasi pada perubahan keadaan.
  • Kesadaran Sosial: Kemampuan untuk merasakan, mengerti, dan bereaksi terhadap emosi orang lain dan pada saat yang sama memahami jaringan sosial.
  • Manajemen Hubungan: Kemampuan untuk menginspirasi, mempengaruhi, dan mengembangkan orang lain dan pada saat yang sama mengelola konflik.

Goleman mengikut sertakan serangkaian kompetensi emosional dalam tiap susunan EI. Kompetensi emosional bukanlah merupakan bakat bawaan, tapi lebih pada kemampuan belajar yang harus dilakukan dan dikembangkan untuk mencapai kinerja yang luar biasa. Goleman mengusulkan fakta bahwa individu dilahirkan dengan kecerdasan emosi umum yang menentukan potensi mereka untuk mempelajari kompetensi emosional.

Model Kecerdasan Sosial-Emosional Bar-On

Seorang ahli psikologi Reuven Bar-On (2006) mengembangkan salah satu teknik pengukuran pertama dari EI yang menggunakan istilah “Emotion Quotient”. Ia mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kepedulian dalam pemahaman diri sendiri dan orang lain secara efektif, berhubungan baik dengan orang lain, dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar agar lebih berhasil dalam menghadapi tuntutan lingkungan. Bar-On mengusulkan fakta bahwa bersamaan dengan waktu EI akan berkembang dan hal ini dapat ditingkatkan melalui pelatihan, program dan terapi.

Bar-On memberikan hipotesa bahwa individu dengan tingkat EQ yang lebih tinggi daripada rata-rata umumnya lebih berhasil dalam memenuhi tuntutan dan tekanan lingkungan. Ia mencatat bahwa kekurangan dalam hal EI dapat berarti kurangnya keberhasilan dan menjadi penyebab keberadaan masalah emosional. Masalah-masalah yang dihadapi seseorang dalam mengatasi lingkungan menurut Bar-On, sangatlah umum di kalangan invividu yang kurang dalam sub-skala pengujian realitas, pemecahan masalah, toleransi stres, dan pengendalian dorongan. Secara umum, Bar-On menganggap kecerdasan emosional dan kecerdasan kognitif memberikan kontribusi yang sama pada kecerdasan seseorang, yang kemudian dapat dijadikan indikasi atas potensi keberhasilan hidup seseorang.

Model EI Berdasarkan Sifat

Petrides mengusulkan sebuah perbedaan konseptual antara Model EI yang didasarkan pada kemampuan dan model yang berdasarkan sifat. Sifat EI mengacu pada “konstelasi dari kecenderungan perilaku dan persepsi diri terhadap kemampuan seseorang untuk mengenali, mengolah, dan memanfaatkan informasi-dengan beban emosi”. Definisi EI ini meliputi kecenderungan berperilaku dan kemampuan diri untuk merasakan dan hal ini diukur dengan laporan diri, sebagai kebalikan dari model yang mengacu pada kemampuan mereka mengekspresikan diri dalam tindakan. Sifat EI harus diselidiki di dalam kerangka kepribadian.

Model EI berdasarkan sifat ialah umum dan menggabungkan Model Goleman dan Model Bar-On yang telah dibahas di atas. Petrides ialah kritikus utama dari model berbasis kemampuan dan MSCEIT berargumentasi bahwa mereka didasarkan pada prosedur penilaian yang “secara psikometrik tidak berarti”.

Konseptualisasi EI sebagai suatu ciri kepribadian yang mengarah pada sebuah susunan yang berada diluar klasifikasi khusus dari kemampuan kognitif manusia. Ini merupakan suatu perbedaan yang penting , karena hal ini digunakan secara langsung pada pelaksanaan susunan, teori-teori serta hipotesa-hipotesa yang telah dirumuskan.

4 Dimensi Kepribadian

Tes Kepribadian Swiss 16 PT menggunakan Teori Carl Gustav Jung yang dikembangkan oleh Isabel Briggs-Myers dan Katharine Myers. Berdasarkan teori-teori tersebut, kita bisa mengetahui bahwa kepribadian terdiri atas empat dimensi. Masing-masing dimensi memiliki dua hal ekstrim yang saling berlawanan.

Dalam hal ini, keempat dimensi tersebut ialah:

  • Ekstroversi (E) vs. Introversi (I)
  • Penginderaan (S) vs. Intuisi (N)
  • Pikiran (T) vs. Perasaan (F)
  • Penilaian (J) vs. Pengamatan (P)

Extroversi (E) vs. Introversi (I)

Dimensi “Extroversion-Introversion” menggambarkan apa yang menjadi fokus anda: Selain itu, anda juga bisa sangat fokus pada event internal maupun eksternal

 

Indera (S) Vs Intuisi (I)

Dimensi “Indera-Intuisi” menggambarkan cara anda mengelola informasi; Anda juga bisa bergantung pada fakta yang ada atau informasi dari pola-pola, gambaran besar dan ide-ide.

 

Pikiran (T) Vs Perasaan (F)

Dimensi “Pikiran-Perasaan” menggambarkan cara anda dalam membuat keputusan: anda bisa membuat keputusan berdasarkan logika dan analisis objektif atau berdasarkan evaluasi subjektif, nilai-nilai dan perasaan.

 

Penilaian (J) Vs Penerimaan (P)

Dimensi Penilaian (J) Vs Penerimaan (P) menggambarkan kebutuhan anda akan kepastian dan evaluasi akhir. Anda bisa memilih kepastian dan dengan cepat mengelompokkan sesuatu atau anda bisa memilih tantangan dan meninggalkan sesuatu yang sudah terbuka.

 

 

Mengembangkan kelebihan anda & mengurangi kekurangan anda

Kelebihan dan kekurangan berkaitan erat dengan setiap tipe kepribadian. Bila Anda mengetahui jenis kepribadian Anda, Anda dapat mengambil keuntungan dari kelebihan yang ada serta menurunkan kadar kelemahan Anda. Selain itu, Anda dapat menggunakan pengetahuan ini pada saat memilih karir atau pasangan.

Mengantisipasi Kendala

Bila Anda mengetahui jenis kepribadian Anda, Anda dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan hidup. Anda dapat belajar untuk memodifikasi perilaku alami Anda ketika situasi memerlukan respon yang lebih tepat dan efektif. Misalnya, jika Anda seorang pemikir dan situasi mengharuskan Anda untuk menenangkan teman yang kehilangan orang tuanya, Anda harus menyadari bahwa Anda perlu lebih menunjukkan perasaan daripada logika semata. Begitu pula, jika Anda adalah seorang perasa dan situasi mengharuskan Anda untuk membuat keputusan keuangan penting, Anda harus menyadari bahwa Anda perlu menggunakan keterampilan pikiran bukan sekedar mengandalkan intuisi Anda.

Anda tidak boleh membenarkan perilaku tidak tepat dengan alasan hal itu sudah merupakan kepribadian Anda. Jika Anda introvert, Anda harus menantang diri untuk berinteraksi dengan orang lain bukan lantas berlaku kasar menghindari mereka. Dan, jika Anda extrovert, Anda harus menantang diri untuk membiarkan orang lain berbicara bukan mendominasi percakapan.

Kendala akan berkurang bila Anda mengetahui dan memahami tipe kepribadian, kelebihan dan kekurangan orang lain. Misalnya, jika Anda tahu seseorang jenis ESFJ (pemberi perhatian), Anda tahu bahwa Anda dapat menangani orang tersebut lebih baik dengan memberikan pujian daripada kritikan.

Memilih Tugas, Karir dan Mitra

Ketika anda mengetahui tipe kepribadian, akan lebih mudah untuk memilih aksi, karir dan pasangan yang sesuai dengan kepribadian anda

Misalkan, jika anda termasuk orang sosial (ekstrovert) dan suka berpetualang (pengamatan), anda akan mencari pasangan yang memiliki kepribadian penilaian (judging). Tak peduli ekstrover atau introver, yang penting anda dapat menemukan pasangan hidup yang bisa mengimbangi dan melengkapi sisi petualang anda.

Berhati-hatilah, bagaimanapun juga tipe kepribadian yang saling melengkapi namun bertolak belakang dapat menjadi kendala, dimana tipe kepribadian yang berlawanan mungkin mengalami kesulitan berkomunikasi dan memahami satu sama lain.

 

 


2 Komentar

  1. Nurapuspita mengatakan:

    selamat malam
    boleh saya tau sumber tulisan berikut berasal dari literatur apa? (buku misalnya)
    terimakasih🙂

  2. wita siih putri gulo mengatakan:

    very good

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

November 2013
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

follow My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: