Life Balance

Beranda » 2013 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2013

Bunga Akhir Desember

Ada satu musim yang begitu ku rindui

Disetiap helai bahkan sudut

Temanku pernah berkata bahwa “Bunga itu bernama Bunga akhir Desember”

Aku tak tahu jelas mengapa dia berkata demikian

Tapi aku rasa dia benar….

Selalu saja ku jumpai pada musim dan bulan yang sama

Digang-gang lebar, dijalan-jalan dekat sekolah dan kampus

Bunga itu

“Bunga akhir desember”

Akan mekar serempak pada bulan Desember

Disetiap waktu aku melewati jalan beraspal ini….

Dikiri dan kananku

Didepan dan belakang…

Aku teringat bunga akhir desember itu

Seakan mereka menyapa ramah padaku

Mereka sungguh indah..

Merah, ungu, kuning, ….

Semuanya menyapa riang….

Aku jatuh cinta pada setiap helainya….

Mereka terjatuh dalam jumlah yang besar….

Terinjak namun tetap tersenyum bahagia

Diatas dahannya mereka menyeruak,,,, mengibas-ngibas kipas

Dibawah dahannya yang terjatuh mereka menari-nari bahagia

Karena mereka bersenandung lagu cinta yang hanya dapat dinyanyikan sekali dalam seumur hidup mereka …

Ditiup angin, terbang, lantas terjatuh, terinjak, tapi tetap tersenyum sembari bernyanyi riang

Aku bahagia melihat bunga itu

Digang-gang dekat kampusku…. Jika Desember sudah tak lagi ada…

Aku lihat dedahan kering….

Pohon itu….

Mengapa ia tetap terlihat indah meski mengering?…

Menggugurkan semua bunga dan daunnya…

Ia tetap terlihat bahagia berada diatas tanah pertiwi

Ah… aku iri pada pohon akhir desember

Yang selalu bahagia disetiap musim

Aku iri pada bunga akhir desember

Baik diatas ataupun dibawah dahan….

Mereka selalu terlihat cantik dan bahagia

Akankan setiap gadis seperti bunga akhir desember?

Selalu cantik dan bahagia dalam setiap musim

Tak peduli masalah apapun yang menghantam mereka…

Aku ingin seperti bunga akhir Desember….

Yang selalu memberi warna dan selalu bahagia

Ah aku menunggu Bunga Akhir Desember

 

UPT Perpustakaan: 21-10-2013

12.15 p.m

GambarGambar

Iklan

Rindu membeku

titik gumpalan yang tak dapat lagi meleleh

ada pada dinding otak

kini mencapai geramnya

Kau sudah menyudutkanku dan aku terhempas jauh…

Bisakah kau bergeming sejenak?

Aku bukan patung yang hanya dapat menyaksikan semua pertandingan konyol

aku bukan patung yang hanya dapat terdiam

aku ingin berucap sesuatu

lewat musim beku kali ini

rinduku mulai membeku

bukan karena dinginnya hari

tapi karena sudah sekian lama rindu ini berada disini

tak berpindah…

dan kini ia benar-benar membeku

tapi aku ingin bertanya

akankah pesan ini sampai jika kutitipkan lewat musim?….

Rinduku membeku dan aku hampir mati membeku pula karena rasa itu

maka kumohon dengarlah lubuk hatimu

ada sebuah pesan istimewa yang terselip malam ini

melalui hembusan bayu

buka mata hatimu dan dengarlah baik-baik

akan ada pesan malam ini dari seseorang yang kau buat membeku lantaran rindu berat

yang mungkin belum pernah kau temui sebelumnyaGambar

PSYCOLINGUISTICS

MIDTERM PAPER OF PSYCOLINGUISTICS

 

 

 

 

 

 

 

 

Name: Fera Komalasari

Class: Vi-A/Morning Class

NIM: E1D010002

 

 

FACULTY OF TEACHER TRAINING AND EDUCATION

MATARAM UNIVERSITY

2013

  1. PENGANTAR

Psycholinguistics adalah sebuah disiplin ilmu dari berbagai macam latar belakang ilmu seperti psychology, cognitive science, linguistics, speech, da panthology bahasa. Psycholinguistics merangkul beberapa cabang ilmu yang berkaitan dengan otak dan bahasa.

Area linguistics yang berhubungan dengan psycholinguistics adalah phonetics, phonology, morphology, syntax, semantics dan pragmatics.

Dalam perkembangannya psycolinguistics menjadi sangat penting untuk dipelajari karena aspek bahasa dan otak berperan sentral dalam kehidupan manusia modern saat ini.

‘Bagaimana bahasa diproses diotak?’

‘Bagaimana kerusakan pada otak dapat mengganggu kemampuan bahasa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu membutuhkan jawaban dan yan dapat menjawabnya adalah psycolinguistics.

Artikel ini terdiri dari dua pembahasan utama. Pembahasan pertama akan membahas  tentang Bahasa dan fungsi otak yang terdiri dari; Neurolinguistics, Fungsi otak, pembagian fungsi otak, lokalisasi, auto lokalisasi, aphaisa. Pembahasan kedua akan membahas tentang funfsi otak; mental lexicon, kompetensi dan performance.

 

 

  1. PEMBAHASAN
    1. BAHASA DAN FUNGSI OTAK
    2. Neurolinguistics, fungsi otak, pembagian fungsi otak

Neurolinguistics adalah ilmu yang mempelajari tentang neural dan electrochemical menurut perkembangna bahasa dan penggunaannya. Psicolinguistics adalah ilmu yang mempelajari tentang penguasaan, penyimapanan, pemahaman, dan produksi bahasa.Dari pengertian tersebut maka muncullah berbagai pertanyaan, ‘Bagaimana sebenarnya bahasa disimpan dan diproses oleh otak? Bagaimana bahasa diperoleh? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentulah perlu untuk mengatahui lebih jauh tentang otak beserta bagian-bagian dan fungsinya.

Otak terdiri dari dua bagian yaitu otak kiri dan otak kanan dimana masing-masing bagian memiliki funngsi-fungsi tertentu. Adapun otak kiri berfungsi mendominasi alas an analisis, bersifat sementara, aritmetik, dan proses bahasa. Adapun otak kanan berfungsi memproses musik, menerima suara non-lingusitik, visual, kecakapan dan pola pengenalan.

Oleh karena fungsinya yang beragam maka patutlah jika otak disebut sebagai salah satu organ tubuh yang sangat penting dalam kaitannya dengan bahasa. Sebagaimana fungsi-fungsi yang telah disebutkan, ada satu bagian pusat bahasa didalam otak yaitu bagian dari cortex yang digunakan untuk produksi dan pemahaman bahasa. Ini terdiri dari tiga bagian.  Bagian pertama adalah Broca’s area yang terletak diatas motor cortex. Adapun fungsinya adalah untuk mengatur pola artikulasi bahasa dan mengatur secara langsung motor cortex ketika berbicara; mengatur penggunaan infleksi dan fungsi morphem. Bagian kedua adalah Wernic’s area yang terletak di audithory cortex. Fungsi dari bagian ini adalah untuk memahami kata dan memilih kata-kata ketika memproduksi kalimat, mencocokkan bentuk ucapan dari sebuah kata dengan objek yang didiskripsikan dimana bagian ini memegang peran sentral untuk keperluan manusia dalam hal membaca dan menulis. Bagian terakhir adalah Angular gyrus yang terletak diantara Wernic’s area dan visual cortex. Adapun fungsinya adalah mengubah rangsangan visual kedalam rangsangan auditory.

Ketika berbicara, Wernic’s berperan penting untuk memahami kata-kata dan memproduksi kalimat. Ketika membaca, kata-kata yang dilihat oleh mata diteruskan menuju visual cortex menuju angular gyrus yang berfungsi untuk mengubah rrangsangan auditory dan meneruskannya menuju Wernic’s area untuk memahami kata-kata tersebut.

  1. Lokalisasi
  2. Pengaturan neural

Memetakan dengan rapi yaitu untuk area sensori, memetakan dengan rapi sel yang peka terhadap rangsangan.

untuk bagian motorik, memetakan dengan rapi pada pengaruh bagian menuju  cortex.

  1. pengaturan topographic, memerintah pemetaan pada suatu sistem menuju yang lain. Yaitu visual cortex dan auditory cortex.

Dalam pembahasan lokalisasi muncul pertanyaan, ‘Bagaimana fungsi kognitif diatur secara neural?’. Hal ini masih menjadi tanda Tanya besar karena hingga saat ini belum diketahui secara pasi bagaimana fungsi kognitif diatur secara neural.

  1. Aphasia

Aphasia adalah sebuah penyakit akibat kerusakan bagian otak yang bertanggunga jawab terhadap bahasa. Pada umumnya, area yang diserang adalah otak kiri yang berfungsi dalam bahasa. Aphasia terjadi secara tiba-tiba dan pada umumnya disebabkan oleh struk atau kecelakaan pada otak. Tetapi pada kasus seperti tumor otak, infeksi atau demensia, aphasia berkembang secara lamban. A[hasia menyebabkan rusaknya pemahaman terhadap bahasa baik dalam membaca ataupun menulis. Aphasia juga dapat terjadi dengan kerusakan bahasa seperti dysarthria atau apraxia dari kemampuan bicara yang juga hasil dari kerusakan otak.

                Aphasia dapat  terjadi karena struk dimana darah yang mengair menuju otak terhenti sementara dan secara mendadak tetapu dengan cepat memugar. Pada kondisii seperti ini, kemampua bahasa bisa saja kembali dalam hitungan jam atau hari. Akan tetapi pada banyak kasus, hal ini tidak secepat itu. Ketika banyak orang dengan kasus aphasia dimana kemampuan bahasanya pugar dalam hitungan hari, hal ini tidak terjadi dalam banyak kasus pula bahkan terapi bahasa tidak dapat menolong pasien, pasien dapat sembuh dalam jangka waktu yang lama  biasanya dalam hitungan tahun. Adapun factor yang mempengaruhi perbaikannya adalah area otak yang rusak, luas kerusakan otak, usia dan kesehatan. Adapun faktor-faktor seperti motivasi, penanganan, dan tingkat pendidikan menjadi sangat penting.

                Setiap orang dapat terkena aphasia baik anak-anak ataupun orang dewasa. Akan tetapi pada umumnya aphasia terjadi pada usia pertengahan dan usia lanjut.

 

Jenis-jenis Aphasia

Ada dua jenis aphasia yaitu Fuent dna non-fluent

Tipe pertama yaitu Fluent aphasia atau wernic’s aphasia merupakan kerusakan pada temporal lobe pada otak. Biasanya kerusakan terjadi pada sisi kiri temporal lobe namun juga dapat terjadi pada sisi kanan temporal lobe.  Bagaimana Wernic’s aphasia dapat dikenali? Orang yang terkena Wernic’s aphasia berbicara dalam kalimat panjang yang tidak memiliki arti, menambahkan kata-kata yang tidak penting, dan membuat kata-kata. Biasanya orang-orang bingung dengan apa yang dikatakan. Penderita aphasia memiliki kesulitan untuk mengerti ucapan dan mereka sering tiddak peduli dengan kesalahan. Mereka biasanya tidak memiliki kelemahan tubuh karena kerusakan otak tidak dekat dengan bagian otak yang mengontrol pergerakan.

Tipe kedua adalah Broca’s aphasia atau non-fluent aphasia yaitu kerusakan pada frontal lobe pada bagian otak. Orang yang mengalai Wernic’s aphasia biasanya berbicara dengan kalimat yang singkat namun dengan usaha yang besar. Mereka sering membuang kata-kata seperti is, and, the. Contohnya ketika berkata,”Man stand window”. Padahal yang mereka maksudkan adalah, “The man is standing in front of the window”. Orang yang mengalami Broca’s aphasia mengerti dengan baik apa yang orang lain ucapkan, mereka sadar dengan kekurangan sehingga terkadang membuat mereka menjadi frustasi.  Penderita tipe ini memiliki kelemahan pada sisi kanan anggota tubuhnya; kelumpuhan pada lengan dan kaki karena frontal lobe juga penting untuk bergerak.

  1. BAHASA DAN FIKIRAN
  2. Mental Lexicon

Mental lexicon adalah sebuah mental dictionary yang berisikan informasi terhadap arti kata, pronunsiasi, karakteristik syntax, dan sebagainya. Mental lexicon berbeda dengan lexicon dimana lexicon adalah sebuah kumpulan dari kata-kata; akan tetapi mental lexicon adalah bagaimana kata-kata diaktifkan, disimpan, dan dikembalikan oleh pembicara. Mental lexicon setiap orang berbeda-beda seiring berkembangnya penguasaan kosa-kata yang dikuasai.

Meskipun disebut sebagai mental dictionary, tentu saja mereka tetap memiliki perbedaan karena otak manusia berbeda dengan kamus dimana pada kamus tetsusun rapi dengan alphabet. Susunan otak manusia dan cara kerjanya lebih complex dalam hal mental lexicon.

Pada mental lexicon terdapat dua jenis memori yaitu memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek adalah ketika input yang didapat disimpan sementara oleh otak dan pada akhirnya hilang jika tidak ada usaha untuk menginat, menyebut, atau member latihan pada otak tentang kosakata tersbut. Sedangkan memori jangka panjang adalah input yang didapat disimpan oleh otak dan dalam jangka waktu yang lama. Adapun prosesnya untuk mecapai sebuah longterm memory adalah sebuah usaha yang keras untuk menyimpan short term memorimenuju long term memori.

 

  1. Performance dan Competence

Teory Chomsky

Chomsky membedakan pengetahuan bahasa dari performance. Menurutnya performance bahasa dibuat oleh hal-hal seperti perhatian, stamina, memeori dan sebagainya. Karena itu sebuah teori bahasa harus merupakan sebuah teori competence. Ketika teori competence ini berkembang, dapat digabungkan menjadi teori performanceyang juga menganggap kemampuan kognitif lainnya.

Competence

Competence adalah seseorang yang dengan kemampuan linguistic mampu menciptakan dan mengerti kalimat, termasuk kalimat yang mereka tidak pernah dengar sebelumnya. Itu adalah seseorang yang dengan aturan tata bahasa dan berbeda dengan aktifitas linguistic sesungguhnya. Linguistic Competence mencangkup competence seperti phonetics, phonology, syntax, semantic, dan morphology. Competence memungkinkan native speaker untuk mengenal kaliamt ambigu, menerima kalimat tak berarti sebagaimana koreksi secara syntactic. Meskipun tidak pernah mendengar kalimat yang dibuat maka tetap akan memahami maksudnya.

Performance

                Performance merupakan output dari linguistic dimana pebicada dapat saja membuat kesalahan tanpa disengaja. Hal ini terjadi karena terbatasnya memori, selingan,kurangnya perhatian dan error atau faktor- faktor phsicology lainnya.

                Meskipun seorang penutur memiliki competence yang tinggi akan tetapi belum tentu performancenya tinggi pula. Ketika berbicara, penutur dapat saja dengan tidak sengaja membuat kesalahan grammar dimana pada kenyataannya ia mengetahui bahwa itu salah sesaat setelah ia mengucapkannya.

                Mengetahui perbedaan antara competence dan performance menjadi bagian yang penting karena bisa saja pendengar tiba-tiba merasa pembicara memiliki competence yang rendah karena banyaknya kesalahan yang dibuat oleh pembicara dimana pada kenyataannya pembicara memiliki kemampuan yang tidak serendah itu.

 

Perbedaan antara teori

Istilah performance (Chomsky) dan Parole (de Saussure) dapat digunakan/dipertukarnkan, dimana competence dan lague. Teori Chomsky leih psychological. Ini sudah pasti menjadi sebuah konsep asli dari communicative competence yang diperkenalkan oeh Hymes (1974). Sekarang pada umumnya didefinisikan sebagai “Secara social cocok dengan penggunaan bahasa”/

 

Chomsky (1965, hal.4) mencatat persamaan antara competence dan perbedaan performance  dan oleh Saussurian langue-parole; akan tetapi dimana langue hanya menyangkut “Systematic inventory of items”. Competense merujuk kepada konsep Humboldian dari sebuah sistem proses generative. Pembicaraan dari seorang individu tidak secara langsung merefleksikan pengetahuan grammar mereka. Seseorang berasumsi bahwa pembicara yang cakap pada bahasanya tidak berubah dari saat ke saat pada aspek grammar dari produksi bahasanya. Tugas seorang linguist adalah membuat buku grammar menjadi sebuah efek, salah satu untuk mendiskripsikan pembicara permanen dalam sebuah bahasanya atau competence linguistiknya. Itu adalah hal yang bertentangan bahwa dalam keseharian harus menggunakan tata bahasa yang sempurna dalam setiap percakapan.

 

  1. KESIMPULAN

Otak memiliki peran yang sentral dalam perkembangan, kerusakan, dan segala sesuatu yang menyangkut bahasa karena memori tentang kosa-kata tersimpan sepenuhnya pada otak. Untuk menjaga bahasa agar tidak mudah menghilang dalam memori jangka panjangnya tentu saja dibutuhkan pengucapan-pengucapan kembali terhadap kosa-kata tersebut.

Adapun kesimpulan dari penjelasan diatas adalah:

  1. Neurolinguistics adalah ilmu yang mempelajari tentang neural dan electrochemical menurut perkembangna bahasa dan penggunaannya.
  2. Otak terdiri dari dua bagian yaitu otak kiri dan otak kanan dimana masing-masing bagian memiliki funngsi-fungsi tertentu.
  3. Broca’s area terletak diatas motor cortex. Adapun fungsinya adalah untuk mengatur pola artikulasi bahasa dan mengatur secara langsung motor cortex ketika berbicara; mengatur penggunaan infleksi dan fungsi morphem.
  4. Wernic’s area yang terletak di audithory cortex. Fungsi dari bagian ini adalah untuk memahami kata dan memilih kata-kata ketika memproduksi kalimat, mencocokkan bentuk ucapan dari sebuah kata dengan objek yang didiskripsikan dimana bagian ini memegang peran sentral untuk keperluan manusia dalam hal membaca dan menulis.
  5. Angular gyrus yang terletak diantara Wernic’s area dan visual cortex. Adapun fungsinya adalah mengubah rangsangan visual kedalam rangsangan auditory.
  6. Aphasia adalah sebuah penyakit akibat kerusakan bagian otak yang bertanggunga jawab terhadap bahasa.

Ada dua jenis aphasia yaitu Fuent dna non-fluent

  1. Fluent aphasia atau wernic’s aphasia merupakan kerusakan pada temporal lobe pada otak. Biasanya kerusakan terjadi pada sisi kiri temporal lobe namun juga dapat terjadi pada sisi kanan temporal lobe dekat dengan bagian otak yang mengontrol pergerakan.
  2. Broca’s aphasia atau non-fluent aphasia yaitu kerusakan pada frontal lobe pada bagian otak. Orang yang mengalai Wernic’s aphasia biasanya berbicara dengan kalimat yang singkat namun dengan usaha yang besar. Mereka sering membuang kata-kata seperti is, and, the.

 

 

  1. REFERENSI

http://en.wikipedia.org/wiki/Psycholinguistics

psicolinguistics. Janice Fon. Pdf

Ceschwind, Norman. Language and the Brain. 1972. Pdf

Language and Le Brain Localization and Circuits. Pdf

NIDCD Factsheet. Pdf

http://en.wikipedia.org/wiki/Mental_lexicon

http://en.wikiversity.org/wiki/Psycholinguistics/The_Mental_Lexicon

DISCOURSE ANALYSIS MISSUNDERSTANDING

ASSIGNMENT OF DISCOURSE ANALYSIS

MISSUNDERSTANDING

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BY                           : Fera Komalasari

Class                      : VI- A

Student number: E1D 010 002

 

FACULTY OF TEACHER TRAINING AND EDUCATION

MATARAM UNIVERSITY

2012-2013

 

  1. BACKGROUND

Communication can be seen as a cooperative act. People cooperate with each other as they communicate as they do in any other shared activity. That is what Grice (1975) believe as an English language philosopher. He said that communication is a cooperative behavior. It means that in discourse weather it in spoken or written there must be a join effort. Both speaker and the hearer must follow certain role in order to make the conversation effectively.  ThisZassumption is called cooperative principle (as cited from Paltridge: 2000).

 

Make your conversational contribution such as is required, at the stage at which it occurs by the accepted purpose or direction of the talk exchange in which you are engaged. (Grice,1975:45)

Somehow, the communication doesn’t always run successfully between two people. Miscommunication happen because the massage delivered by the speaker is wrong accepted by the hearer.

  1. DISCUSSION

There are two data of miscommunication below.

  1. There are 2 women debate about the use of hot and warm

Susan: Oh….. You look funny eating something like that

Diana: Nggak lucu. Panas…. Ouuuuu panas banget. (it’s not funny. Warm… ouuu it’s very warm)

Susan: Kamu nggak seharusnya bilang panas, tapi pedes. Kita pakai kata panas untuk contoh cuaca misalnya, bukannya panas gara-gara sambal, salah kamu, salah.

(You should not say warm, but hot. You know we have to use the word hot if the taste is hot because of the weather for instance, not because of the chilli, you are wrong, you wrong .

Diana: Could you silent please? It’s not a good way for me eating this soup if you don’t understand it.

Susan: Hey…. Use a good sentence please. I’m trying to explain you about a grammatical sentence.

Diana: But you don’t understand it.

Susan: What?

Diana: What do you mean?

Susan: You shouldn’t use warm to indicate something that is hot by chili, but you should say hot.

Diana: Hey…. It’s not caused by the chili but it has already just poured to the plate and the soup is warm. So I have some difficulties to eat the soup.

In that case, Susan has a misunderstanding about what Diana says. She thinks that Diana feels hot because of the taste of chili. In fact, she doesn’t. Diana feel hot because of the boil water of the soup.

 

  1.  

Mother: Belian ku bunga, lemak*! (Buy me the cotton, now please!)

Aya: Come on sister we buy cotton

Fitri: Who ask you?

Aya: Mother

Fitri: When we should buy?

Aya: Now

Mother: Lemak mo! (hurry up!)

Fitri: She said we must buy it tomorrow sister!

Aya: She said now, not tomorrow.

Fitri: Oh God. Don’t you hear it? Mother said tomorrow.

Aya: Who said tomorrow? She will use it now.

Fitri: You should hear when your mother talked.

Aya: Why me? I heard it. She spoke using Sumbawaness, not Sasakness so you have a trouble with it. She said Lemak means now in Sumbawaness but when you translate it in Sasakness you will use Lemak as tomorrow. Do you understand?

Fitri: I don’t think so. Then, we may ask mother once again.

Aya: Mom….. Should we buy it now?

Mother: Lemak mo

Fitri: Do you hear it? Mother said tomorrow.

Mother: Not tomorrow but now.

 

As the second case, there is a misunderstanding between the sisters. In Sumbawa language, Lemak means now- for hurry thing. But in Sasak Language, they use Lemak as means of tomorrow. Even though the two languages are in same province, but the language is different and it sometimes causes misunderstanding. Somehow, it often happened in communication when people said A and the hearer understand it as B.

 

  1. CONCLUTION

Miscommunication happens not only in one language but also between two or more languages. Sometimes it’s hard to avoid it. The only way to make the conversation run well is that the speaker and the hearer must know well about the language, when- where- to whom is it used.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFFERENCE

Gricean maxims Wikipedia

Paul Manning Anthropology/Champlain College Trent University, Peterborough, Ontario. pdf

 

The Effect of Using Scripted Role Play to Improve Students Speaking Ability (An Experimental Research on XI Grade OF MAN 2 Mataram, Academic Year 2013-2014)

FINAL PAPER OF RESEARCH ON ELT

CHAPTER 1

INTRODUCTION

1.1   Background of The Study

Globalization has brought all the nations to open their mind about the importance of International language to communicate with another. As the necessity of the International language, English has become important languages in the world. English is spoken and learnt by all the nations. Looking at this importance in this global era, speaking skill becomes one of the most important skills to communicate with another country. In this era of globalization, the ability to speak English is a huge asset in the increasingly local and global workplace (Gerrish & Lacey, 2010). Within any company in the modern world of open economy, being able to speak the English language is a requirement of stake holders and customers. Thus, to meet the demands of the global  economy,  English speaking skill becomes the medium for ease of communication (Khamkhien, 2010).  

Indonesia as one of the parts global community can’t deny that the Speaking skill is important to the educational development in order to survive in traditional market. The increasing demand of good communication skills in English has activated English teaching around  the world (Richard,  2006). In Indonesia, English is taught from the elementary level to the university level. But in fact, in the class room activity just some of the students are able to speak fluently and mostly are in low level. The possible reason for this case is that the students just sit on their chair, listen to the teacher explaining about the lesson material, lack of speaking opportunity, where that’s all are not a good idea to improve their speaking ability. The teachers are still looking for a good technique to increase their students speaking skill to use the target language and then there are lots of activities are introduce to develop the students speaking skill.

                         Larsen-Freeman  (1986)  said  that a classroom during a communicative activity will not  be  quiet.  The  students  do  most  of  the speaking  and  the  ambiance  of  the  classroom during  a  communicative  exercise  is  active.  The students may leave their seats to complete a task.

As  mentioned above, scripted role play come up to help the students to improve students speaking ability. It will provide the students opportunity to use the target language to communicate with the other and here scripted role play is the solution communicative activity for them.

             There  are  two  broad  types  of  role-play activities  often  used  in  English  language classrooms:  scripted  and  non-scripted  role-plays. To  perform  role-plays  of  the  scripted  type,  the students  will  have  to  work  in  pairs  or  small groups.  They  are  given  prompts  related  to  the target scenarios. Then, they will have to use the prompts  as  the  model  to  form  the  target dialogue.  The  students  rehearse  that  dialogue before performing  it  in  front  of  the  class.  In  the non-scripted  role-play,  on  the  other  hand,  the students  are  assigned  to perform  the  role-play activity  in  front  of  the  class  based  on  the prompts  given  without  preparing  or  writing  the script in advance (Byrne as cited in Davies, 1990). Livingstone (1983) stated that role-play is a  classroom  activity  allowing  the  students  to practice  the  language,  the  aspects  of  role behavior  (e.g.  formality,  register,  function, attitude,  paralinguistic  features,  extra-linguistic features,  acceptability  and  appropriateness,  and the immediacy of oral interaction), and the roles outside  the  classroom  that  they  may  need  to know.  She  commented  that  the  teacher  cannot accurately predict all the roles that the students may  need  to  know  in  order  to  communicate  in real  life.  Hence,  she  suggested  that  the  teacher may  help  raise  students’  awareness  and understanding  of  role  behavior  and  have  them extensively practice the language associated with these  roles.   

In  Thai  education,  teachers  normally implement scripted role-play to improve student speaking  proficiency.  Non-scripted  role-play  is rarely found in English language classes, with the reason  being  that  this  type  of  role-play  is  quite complicated,  and  teachers  should  look  to  set achievable  goals  for  the  students.  It  can  also create  too  rigid,  stressful  atmosphere  for  the students  since  there  is  little  opportunity  to prepare and rehearse the dialogue.  However, it is still too early to lay claim that scripted role-plays have the advantage over non-scripted  ones  in  developing  the  student’s oral ability. The results show that some students trained  with  scripted  role-play  really  struggle  to  speak English in real-life situations. As a matter of fact,  there  have  been  few  studies  directly investigating the results of both types of role play activities  with  the  focus  on  the  aptitude  of students  in  speaking  English.   

            As the result, this research will concern to identify the effect of scripted role play to improve student speaking ability in grade XI of MAN 2 Mataram.

 

 

 

 

 

                                                    

1.2 Research Question

The problem of this study is:

Is there an effect of script role play to improve students speaking ability in grade XI of MAN 2 Mataram academic year 2013-2014?

1.3  Research Objectives

This purpose of this study is to identify whether the use of script role play is effective to improve the students speaking ability in grade XI of MAN 2 Mataram academic year 2013/2014.

1.4  The Scope of Research

This study is limited to identify the effect of using role play in speaking skill. This technique is applied for teaching speaking skill in grade XI of MAN 2 Mataram academic year 2013/2014.

1.5  The Significance of Study

  1. Theoretical Significance

In theory, this study will be able to give the effect of using scripted role play to improve students speaking ability.

  1. Practical Significance

a. For students

1. The students are able to improve their speaking skill ability.

2. Through scripted role play in teaching learning activity, hopes it can dig the student’s interest in Speaking because the method is fun.

b. For the teacher

1. The teacher can motive students to encourage their vocabulary through some models of the mapping word technique.

2. Teaching speaking by using script role play is attractive, so it’s able to increase student’s interest.

3. It might for student to share their thoughts with their friends about what will be spoken in front of the class.

c.For the Institution

Scripted role play can be applied for some of the English learning purpose to increase student’s skill. It’s not merely for improving student’s speaking ability but also it can be applied in vocabulary learning.

For the institution script role play can help students in general to develop their English capabilities to the School (the institution) gets the achievements and appreciation to the education institution.

d.For the public (the readers in general)

The implementation of Script role play to improve student’s speaking skill is hoped can be followed by another teacher in teaching speaking activity.

1.6  Hypothesis of Study

The hypotheses of this research are divided into two hypotheses.

  1. Alternant Hypothesis (Ha) “there is a significant effect of using script role play to improve students speaking ability.
  2. Null Hypothesis (Ho) “there is no effect of using script role play to improve the students speaking ability.

CHAPTER II

LITERATURE REVIEW

 

2.1               Speaking Skill related to communicative approach

In Oxford Advanced Dictionary the definition of speaking is “to express or communicate opinions, feelings, ideas, etc, by or as talking and it involves the activities in the part of the speaker as psychological, physiological (articulator) and physical (acoustic) stages.”( Oxford Advance Dictionary)

There are five features of CLT pointed out by Nunan:

– An emphasis on learning to communicate through interaction in the target language.

– The introduction of authentic texts into the learning situation.

– The provision of opportunities for learners  to focus, not only on language, but also on the Learning Management process.

– An enhancement of the learner’s own personal experiences as important contributing elements to classroom learning.

– An  attempt  to  link  classroom  language  learning  with  language  activities  outside  the classroom.  (David Nunan, 1991)

Those principles show that the communicative approach is related to the speaking skill which is focuses on students need and desire. It can be concluded that CLT any teaching practice that helps the students to develop their communicative competence is deemed an acceptable and beneficial from instruction.

2.1.1. Cooperative Learning (CL)

Slavin (1987) stated: “Cooperative classrooms are classrooms where students are likely to attain higher levels of achievement, to increase  time on task, to build cross-ethnic friendships, to experience  enhanced  self-esteem,  to  build  life-long  interaction  and  communication skills,  and  to  master  the  habits  of  mind  (critical,  creative  and  self-regulated)  needed  to function as productive members of society.”

2.2  Definition of Role Play

According to Little Wood (1948, p 49) states that in a role play “Learners are asked to imagine them selves in a situation which could occur out side the class room; to adopt a specific role in this situation; and to behave as if the situation really excited in accordance with their roles.” Where according to Richards (1985) states that “Role play typically involves a) a situation in which a setting participants and a goal or problem is described; b) description of the role of each of the participants and the task he or she has to accomplish (p.86).  According to Ladorsse (1987, p.5) States that “When students assume a ‘role’ they play a part (either their own or somebody else’s) in a specific situations; play means that the role is taken on in a safe environment in which students are as inventive and playful as possible.

2.2.1 Scripted Role-play in developing speaking skills

According to Byrne (1986), role play can be grouped into two forms, scripted and unscripted role play.  Holding  different  ideas  from  Byrne,  in  dividing  types  of  role-play,  Littlewood  (1981) reported  that  role-play  activities  can  be  categorized  into  four  types  as  follow:  Role-playing  controlled through  cued  dialogues,  Role-playing  controlled  through  cues  and information,  Roleplaying  controlled  through  situation  and  goals,  Role-playing  in  the form of debate or discussion

2.2.2. Roles of teachers and students in role-play activities

 According to Morrow, (1977: 71), “the learner is now concerned with using language,not English usage. In order to do this, learners  take on roles and interact with other learners who also have roles. What they say is determined by the roles they play, their communicative intentions and the contribution of the other learners”.

2.2.3. Significance of Role Play in Developing Speaking Skills

Role play is a technique which can develops students’ fluency in the  target  language, promotes  students  to  interact  with  others  in  the  classroom,  increases  motivation  and makes the teaching-learning process more enjoyable.

CAPTER III
 RESEARCH METHOD

3.1  Research Design

This paper conducts an experimental method. Some views on the definition of the experimental method stated as follow: Surakhmad (1989:29) states that: “Experimental research is the method of the research which explain the data for predicting the events in the future”
Suryabrata (2003:58) states that experimental design is; “The experiment research is oriented to observe possibility of causal- effect by giving treatment to on or more experimental groups, within it on or more condition of treatment trying to compare the result of the samples”.

Based on the views above, the method that is used is descriptive quantitative method which aims to determine the relationship between independent variable with dependent variable. The writer tries to find out the significant effect of using scripted role play to improve the student’s speaking ability.

This study will implement the mix group which consists of experimental class and control plemented scripted role play will occurs in the experimental class, while the conventional technique will be applied in the control class. By using the mix group, we will be able to idnetify how much scripted role play can contribute toward the students’speaking ability.

1.2     Population and Sampling Technique

1.2.1        Population of Study

According to H. Muhammad Ali, (1992:5)“If the sample really represent of population, what is known about the sample is our knowledge of the population. The implication is, if the research which used really represent of population, so done generally to the population”. While according to Arikunto (2006) who defines that population is all of individual of subject research.

 The population of this study were  320 students  of grade XI MAN 2 Mataram which devided in to 9 classes with 30-37 students in each class.  The sampling of this study is random sampling. As the result, Class XI IPS 3 and XI IPS 4  are selected. The sample of class XI IPS 3 is designed as the experimental class, while XI IPS 4 is as control class. The experimental class will be treated by using scripted role play and conventional technique for the control class applied by the teacher. The Researcher will gave the test before and after applying the scripted role play  for both of classes.

1.2.2        Sampling Technique

The sampling technique which used by the researcher is random sampling. The researcher chooses the random sampling because from the three major study of the high school, Social class is in the middle of language class and science class. The students in social class get the English class balance where in language class they get the English class often than social and science class. Taken the sample from eleven grade is caused by in that level, the students had learn most in the nine grade but they still have the lack of speaking in the target language. After that, the elected grade XI IPS 3 and XI IPS 4 which consists of 37 students as research sample as Arikunto (2006) who maintains that if the number of population is less than 100, so the sample is all population. However, when the population is more than 100, it can be taken the sample consist of 20-25% or more. As the result,  The total number of sample is 74  students which were taken from 320 amount of population or less than 25 %. And then the writer classified to be an experimental group and control group. Each group consist of thirty seven (37) students.

 

1.3     Research Variable

 

There are two variable of this study: independent and dependent variable. The independent variable is the use of scripted role play, because the variable can affect the dependent variable. While the dependent variable is students speaking ability because that variable is influenced by the independent variable.

1.4    Technique of Collecting Data

There are some steps that is used by the researcher to collect the data, that is:

  1. Pre test

In the first meeting, the researcher will give the pre-test to the students in speaking using conventional learning technique.

  1. Treatment

In the second meeting the researcher will give the treatment to the students where for the control group the teacher use the conventional technique to teach speaking skill. Whereas for the experimental group the teacher will apply the scripted role play in teaching speaking. In the end of the class, the researcher provides a  test at the end of the class meeting.

  1. Treatment will be done in three times
  2. Post test

After the three step is done the researcher will conduct the post test for both control and experimental group.

 

1.5    Data Analysis Technique

 

In order to answer the questions in this experimental research, the writer collects the data and begins to find out raw scores of the experimental group and control group obtained from the test that stated by Heaton (1974;94). Next, the writer analyzes and interprets all of the data obtained through all of the instrument. The first steps done is finding out the raw score of both group. The second steps done is finding out the main score of both group. The writer use the following formula :

    10 : the formula to find out the raw score after changed into final score in which :

fs : The students individual obtained final score

p : the possible maximum raw score based on scoring system

10 : the maximum higher final score

N : the student individual obtained raw score

 : the formula to find out the mean score of the experimental group.

 : The formula to find out the mean score of the control group.

In which :

M : Mean

X : Experimental group

Y : The control grou

Ʃ : Sum of

N : Number of object

The mean scores obtained from the formula above are interpreted and analyzed. The last step is that the writer find out the square deviation of the both group by using the formula bellow.

           
            =  –                  : The square deviation of experimental group.

             –                : The square deviation of the control group.

            When the mean score of the both group have been identified, the writer then computed the correlation coefficient of the two mean scores whether they are categorized as significant or not, inthis case, the t – test formula is applied.

In which,

Mx         = the mean score of experimental group

My         = the mean score of control group

X/Y        = the deviation of x1 / y1 and x2 / y2

Σ                       = the sum of … .

√            = the root 0f … .

Nx          = the number of sample of experimental group

Ny = the number of sample of control group

( Arikunto 2006 : 312)

References:

Oxford Advance Dictionary. Oxford University Press, 1995.

Khamkhien, A. (2010). Teaching English Speaking and English Speaking Test in Thai Context. English Language Teaching, 3, 1:184-190.

Richards , J. C.,& Rodgers, T.S (1986). Approaches and Methods in Language Teaching. Cambridge, NY: Cambridge University Press.

Byrne, D. (1986). Teaching Oral English: Longman Handbooks for English Teacher.  Singapore: Longman Group.