Fera Komalasari

Beranda » SCIENCE AND TECHNOLOGY » BEDANYA DAHLAN DAN KITA SOAL MOBIL LISTRIK

BEDANYA DAHLAN DAN KITA SOAL MOBIL LISTRIK

Arsip

Kategori

 

Disaat kita memikirkan kecemasan: mobilnya nyetrum nggak? Kalo banjir mati nggak? Dahlan sudah memikirkan apa yang akan terjadi kalo cadangan minyak kita habis? Padahal menurut beberapa ahli, cadangan minyak kita akan habis 11 tahun lagi! Berapa banyak minyak yang harus kita impor? Berapa banyak subsidi yang harus ditanggung negara akibat konsumsi BBM yang terus menggila. Dengan mobil listrik, Dahlan mungkin sudah membayangkan betapa banyak manfaat yang bisa dilakukan kalau negara sudah tak perlu mensubsidi BBM. 300 triliun pertahun subsidi itu bisa dialihkan untuk membangun jembatan Selat Sunda, tahun depannya lagi bikin jembatan Selat Bali. Tahun depannya lagi bisa membangun jaringan kereta api di Sumatera dan Kalimantan.

 

Disaat kita memikirkan wong gak ada mobil listrik aja listrik udah byar pet, gimana nanti kalo ada mobil listrik, Dahlan bekas dirut PLN itu mengungkapkan fakta menarik. Mobil litrik itu dirancang untuk di charge pada malam hari memanfaatkan listrik yang biasanya terbuang percuma. Terbuang? Iya, karena ternyata pembangkit listrik itu siang malam menghasilkan listrik dengan watt yang sama, selama ini listrik dini hari (setelah jam 9 malam sampai subuh) itu mubazir. Ini yang akan dimanfaatkan untuk menchage mobil listrik. PLN menurut Dahlan nantinya akan mengenakan tarif yang murah untuk listrik dini hari ini.

Disaat kita memikirkan mana bisa sih kita bikin mobil dan bersaing dengan Jepang, Dahlan memakai logika lain. Untuk mobil bensin kita sudah tertinggal puluhan tahun, percuma kita membuat mobil bensin. Tapi untuk mobil listrik, negara lain juga baru mulai serius melakukan riset. Dan belum ada mobil listrik yang benar-benar sukses. Kita punya peluang lebih besar untuk bersaing dan memenangkan perlombaan ini.

Disaat kita pesimis dengan keahlian putra-putra bangsa memproduksi mobil listrik, Dahlan sudah mengamankan Ricky Elson. Anak Padang pemilik puluhan paten motor listrik di Jepang. Ricky dengan karir mapan di Jepang, bersedia kembali setelah mendapatkan jaminan dukungan penuh dari Dahlan. Gaji menteri BUMN-pun diserahkan semua untuk menggaji Ricky, meskipun nilainya belum bisa menyamai gaji Ricky di Jepang. Selain Ricky masih ada beberapa tenaga ahli lain dalam tim Putra Petir yang bekarja keras mewujudkan mimpi dan harga diri bangsa.

Disaat kita menyalahkan: Ah, ada mobil listrik bikin macet aja! Kita lupa bahwa ada atau tidak ada mobil listrik, jalanan tetap macet. 7.141.586 motor terjual di Indonesia tahun lalu. 1.450 mobil terjual setiap hari! Sialnya duitnya mengalir ke negara lain. Sialnya udara polusinya kita yang menghirup. Dahlan berpikir jauh kedepan. Polusi ini harus dihentikan. Kesehatan anak cucu harus dijaga dari sekarang. Jalan satu-satunya adalah mobil listrik yang tanpa polusi.

Disaat kita terlena enaknya menjadi konsumen mobil, Dahlan gemas memikirkan harga diri bangsa. Apa mau 30 tahun lagi kita tetap menjadi negara konsumen persis seperti yang terjadi sekarang? Apa kita mau terjatuh kelubang yang sama 2 kali?

Disaat kita memikirkan entar kalo baterainya habis mau dicharge dimana? Dahlan sudah memerintahkan Pertamina dan PLN untuk membuat prototipe Stasiun Pengisian Bahan Bakar Listrik (SPBL). PT Pertamina berencana menambah stasiun pengisian mobil listrik (electric vehicle charging station) di beberapa SPBU. Sedangkan PLN membangun SPBU Listrik.

Kita juga lupa bahwa mobil-mobil listrik ini bisa dicharge dimana saja.

Disaat kita memikirkan: Ah, paling komponennya impor? Dahlan sudah mendorong Nipress, sebuah pabrik baterai di bekasi untuk memproduksi baterai litium khusus mobil dan motor listrik. Pertengahan tahun ini sudah akan diproduksi massal. Dahlan juga pada beberapa kesempatan menantang ilmuwan dan mahsiswa untuk menemukan baterai jenis baru yang cocok untuk mobil listrik.

Disaat kita memikirkan kecemasan dan hambatan, Dahlan bekerja dengan tim putra petir dan BUMN BUMN terkait memproduksi harapan dan menemukan solusi. Disaat kita pesimis, mereka optimis.

Pesimisme itu menyebar begitu cepat, padahal pesimisme itu setengah kegagalan. Sedangkan optimisme itu setengah keberhasilan. Karena itu pesismisme harus di lawan dengan optimisme. Sebab kalau pesimisme menang, maka kegagalan kita sebagai bangsa akan ada di depan mata. Begitu pesan Dahlan berulang-ulang pada berbagai forum. Dahlan sedang berusaha keras menyebar virus optimisme di antara rakyat seperti kita yang dikuasai pesimisme dan apatisme. Kita perlu lebih banyak lagi pemimpin seperti Dahlan.

Jadi apa yang bisa kita lakukan? Kalau kata Dahlan seperti yang diutarakannya di Universitas Peking minggu lalu: Nggak perlu ikut mikirin bagaimana membuat negara maju. Cukup berpikir bagaimana Anda bisa maju. Kalau sudah ada 150 juta orang yang berpikir caranya maju, otomatis negara akan maju.

Tapi ikut-ikutan menyebarkan optimisme juga gak ada salahnya☺ Ayo optimis! Karena pesimisme tidak menghasilakan apa-apa kecuali rasa aman. Aman karena tidak kemana-mana alias stagnan.

(Ahmad Zaini)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

follow My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: