Fera Komalasari

Beranda » Pendidikan » Linguistis- Semantics (hubungan kebenaran)

Linguistis- Semantics (hubungan kebenaran)

Arsip

Kategori

Hal 252-259

Sifat Kebenaran

Tidak hanya ekspresi dalam sebuah bahasa yang memiliki arti, dan sering referensi, mereka juga biasanya menggunakan mengatakan sesuatu yang benar atau salah. Tentu saja, tidak ada teori semanatik yang dapat memprediksikan kalimat mana yang digunakan untuk mengatakan alimat itu benar atau salah, dalam bagiannya karena kebenaran dan kepalsuan tergantung pada apa yang ditunjuk, dan karena kata yang sama dapat digunakan dalam kalimat yang serupa untuk menunjuk untuk membedakan saesuatu. Contohnya, jika dua pembicara mengucapkan kalimat i took your picture last night, kemudian apa yang salah satu dari mereka katakan mungkin saja benar, ketika yang lain mungkin berkata salah. Selanjutnya jika kalimatnya ambigu, itu mungkin digunakan untuk mengatakan sesuatu ketika mengambil satu jalan tetapi salah ketika mengambil jalan lain.

(12)

a.  I removed your painting last night.

b. I photograped you last night.

Apakah ini artinya bahwa semantik dari bahasa alamiah tidak dapat sepakat dengan kebenaran dan kepalsuan? Jawabannya adalah tidak, karena beberapa sifat kebenaran dan hubungan kebenaran  memegang tanpa memperhatikan referensi, menyajikan arti ssecara tetap.

Mengingat pertama sifatnya kebenaran secara linguistik (juga disebut analisis kebenaran) atau kesalahan secara linguistik (juga disebut pertentangan). Sebuah kaliamt secara linguistik benar (atau secara linguistik salah) jika itu adalah sebuah kebenaran (atau kebohongan) ditentukan semata-mata oleh semantik dari bahasa dan itu tidak penting untuk memeriksa beberapa kata tentang dunia nonlinguistik untuk memutuskan itu kebenaran atau kepalsuan. Sebuah kalimat dengan kebenaran pengalaman (salah dengan pengalaman) jika itu tidak secara linguistik benar atau salah- itu adalah, jika itu penting untuk memeriksa dunia untuk memeriksa ataumemalsaukannya. Lebih banyak tuntutan dari pengertian umum dan ilmu pengetahuan yag berjenis akhir. Jika seseorang berkata bahwa celah suara telah ditemuka tahun lalu, tuntutan ini benar (atau salah) hanya dalam kasus celah suara, ssebagaimana faktanya, ditemukan (atau tidak ditemukan) tahun lalu: pengetahuan dari bahaasa itu sendiri tidak dapat memantapkan perkara. Semantik tidak terkait dengan kebenaran empiris dan kepalsuan tapi dengan kalimat itu yang secara linguistik benar atau salah. Pada masing-masing kelompok (13), (13), (14), dan (15) itu mungkin untuk menentukan kebenaran nilai (benar /true= T, salah/false=F) tanpa memandang  pernyataan sebenarnya dari dunia.

(13)

a.Either it  is raining here or it is not raining here. (T)

b. If John is sick and Marry is sick, then John is Sick. (T)

c. It is raiing here and it is not raining here. (F)

d. If John is sick and Marry is sick, then John is not sick. (F)

(14)

a. All people that are sick are people. (T)

b. Some people that are sick are not people. (F)

(15)

a. if the car is red, then it has a color. (T)

b. The car is red, but it has no color.  (F)

Lagi,  mengetahui bahasa terlihat cukup untuk mengetahui kebenaran dan kepalsuan dari kalimat-kalimat tersebut, dan semantik dari kalimat-kalimat itu akan relevan dengan teori semantik.

Hubungan Kebenaran

Kita telah mencatat bahwa ada hubungan kebenaran sebaik sifat kebenaran yang jatuh dalam bidang semantik. Hubungan kebenaran yang paling terpusat untuk semantik adalah diperlukan. Satu kalimat S sikatakan membutuhkna kalimat lain S’ ketika kebenaran dari jaminan pertama kebenaran dari yang kedua dan kesalahan dari jaminan yang kedua kesalahan dari yang pertama, sebagaimana dalam:

  1. The car is red entails The car has a color.
  2. The needle is too shoort entails The needle is not long enough.

Kita dapat melihat bahwa kalimat yang pertama dari masing-masing contoh, jika benar, menjamin kebenaran dari yang kedua: dan dan kesaahan dari kalimat yang kedua dari setiap contoh menjamin kesalahan dari yang pertama.

Lekat hubungannya membutuhkan hubungan kebenaran yang lain, perkiraan semantik. Ide dasar dibelakang eprkiraan semantik bahwa kepalsuan dari dari perkiraan kalimat menyebabkan perkiraan kalimat tidak harus memiliki nilai kebenaran (T atau F). Selanjutnya, baik sebuah kalimat dan penyangkalannya memiliki perkiraan semantik yang sama. Meskipun hubungan kebenaran ini agaknya diperdebatkan, (17) dan (18) menunjukkan jenis contoh dari perkiraan semantik dimana keduanya positif (a) dan negatif (b) memiliki perkiraan yang sama (c).

(17)

a. The present King of France is bald

b. The present King of France is not bald

c. There is present King of France

(18)

a. John realizes that his car has been stolen

b. John does not realize that his car has been stolen

c. John’s car has been stolen

Singkatnya, ada paling sedikit dua hubungan kebenaran yang mencukupi teori semantik harus dijelaskan, atau dijabarkan, dibutuhkan perkiraan semantik, dan semua itu harus ditambah kepada sifat kebenaran yang siap dibahas.

Bentuk Logis dan Kalimat Analitic (Bagian Teknis)

Ada beberapa perbedaan penting antara contoh (13), (14) dan (15). Pada (13) nilai kebenaran (T atau F) ditetapkan semata-mata oleh penghubung atau, dan, jika… kemudian dan kata tidak (dimana kadang-kadang memendekkan it is not the case that). Semenjak kata-kata yg demikian itu sering dijuluki kata-kata yang logis, kalima ini juga sering disebut kebenaran logika (dalam bahasa Inggris). Itu dapat dilihat bahwa bentuk dari kalimat ini membuat mereka tanpa memperhitungkan kebenaran dari bagaimana kata itu. Contohnya, bentuk logis dari (13a) dan (13b) dalam istilah kata-kata logikal adalah:

(19)

a. baik S atau tidak-S. (T)

b. jika S dan S’, kemudian S. (T)

Tak peduli apa (secara grammar) kalimat pernyataan yang kita ambil untuk S dan S’, gabungan hasil kalimat akan menjadi benar. Kejadian yang sama untuk kepalsuan dari (13c) dan (13d), dimana juga diakibatkan oleh bentuk logis mereka:

(20)

a. S dan bukan-S’. (F)

b. jika S dan S’, kemudian bukan S’. (F)

Keterangan yang sama terjadi pada (14), kecuali kalimat logis yang relevan adalah beberapa, setiap dan tidak. Yang pertama dari kedua kalimat ini adalah benar dalam sifat dari bentuk logis mereka; dua yang terakhir adalah salah dalam sifat dari bentuk logis mereka.

(21)

a. semua X’ yaitu P adalah X’s. (T)

b. jika setiap X’ adalah P, kemudian itu tidak benar bahwa tidak X adalah P. (T)

c. Beberapa X’s yaitu P adalah tidak X’s. (F)

d. Setiap X adalah P, tapi setiap X tidak P. (F)

Prosedur menurunkan bentuk logis dari hasil sebuah kalimat hasil yang sangat berbeda ketika digunakan pada kaliamt (15). Ini adalah karena kata berhubungan kepada kebenaran linguistik atau kepalsuan dari kalimat ini adalah bukan kalimat yang logis, dimana dapat digunakan dalam mendiskusikan beberapa pokok persoalan, tapi kata deskriptif seperti- bachelors, kill dan red digunakan dalam membahas beberapa jenis dari pokok persoalan—bachelors, killingss, colors, dan sebagainya. Jika kita mengikuti prosedur dari menggantikan kata deskriptif dengan huruf pada (15a-c), dengan cara demikian mengubah mereka kedalam bentuk logis mereka, hasilnya (22a-c).

(22)

a. Jika John adalah seorang B, kemudian John  adalah U.

b. Jika John K-ed the bear, kemudian the bear D-ed.

c. Jika mobil adalah R(red/merah), kemudian mobi memiliki sebuah C (color/warna).

Itu gampang untuk melihat bahwa bentuk (22) tidak selalu membutuhkan hasil dalam kalimat yang benar, seperti pada kasus sebelumnya dari kebenaran kinguistik, semenjak bnetuk ini dapat menghasilkan kalimat yang salah:

(23)

a. if John is a bachelor, then John is unhappy. (F)

b. if John kick the bear, then the bear died. (F)

c. If the car is repossessed, then the car has a carburetor. (F)

Meskipun jika kalimat seperti (23a-c) adalah tidak benar dengan sifat dari bentuk logisnya, kadang-kadang mereka dapat diubah kedalam kebenaran logis dengan mensubstitusi kedalam definisi mereka kedalam kata-kata deskriptif. Contohnya, anggap definisi dibawah ini benar:

(Def. 1)

Bachelor= Def “unmarried and adault and male”

Jika kita mengganti kata bachelor dalam (15a) dengan dengan sisi kanan dari Definisi 1, hasilnya adalah kalimat (24):

(24)

If John is unmarried and adult and male, then John is unmarried.

Apa yang menarik pada (24) adalah memiliki bentuk kebenaran logis, yang dinamakan, (25):

(25)

If John is U and A and M, then John is U.

Itu, kalimat tertentu yang bukan kebenaran logikal dapat diubah kedalam kebenaran logis dengan mengganti deskripsi kata yanga penting dengan definisinya. Kalimat yang dapat diubah kedalam kebanaran logis oleh jenis substitusi ini sering ddisebut kalimat analitik, dan semenjak mereka benar oleh sifat dari struktur semantiknya, mereka dianggap jatuh kedalam bidang teori semantik.

Ringkassnya, ada sejumlah kebenaran sifat yang toeri semantik harus menghitungnya, termasuk dari kebenaran linguistik dan kesalahan dan diantaranya logis dan kebenaran analisis (atau kesalahan).

(Hal 256)

Tujuan dari Teori Semantik

Sekarang kita masuk kepada pertanyaan tujuan dari teori semantik. Apa yang harus teori semantik lakukan, dan bagaimana?

Jawaban pendek yang pertama adalah bahwa teori semnatik harus menduduki setiap ekspresi E dlam bahasa sifat semantik dan hubungan yaitu ; selain itu, itu seharusnya mendiskripsikan sifa-sifat dan hubungan itu. Yaitu, jika sebuah ekspresi E adalah berarti, teory semantik harus berkata demikian. Juka E memilki kumpulan arti yang khusus, teory semantik harus menghususkan mereka. Jika E adalah ambigu, teori semantik seharusnya mencatat faktanya. Dan sebagainya. Selain itu, jika dua ekspresi adalah sinonom, atau jika satu membutuhkan yang lain, teori semantik harus menandai hubungan semantik ini. Kita dapat mengatur permintaan dari teori semantik dari sebuah bahasa harus menghasilkan setiap contoh yang benar dari skema dibawah ini:

a. Kekayaan/sifart arti dan hubungan

E adalah secara literal digunakan untuk

E berarti

E adalah sangat berarti

E adalah ambigu

E adalah tidak berati

E adalah berlebih-lebihan

E dan E’ adalah sinonim

E mencangkup arti dari E’

E dan E’ saling melengkapi dari arti

E dan E’ adalah antonim.

b.Kekayaan/sifat denotasi dan hubungan

E menunjukan ekspresi yang luar biasa

E menunjukan ekspresi umum

E dan E’ adalah sama besarnya

c.Kekayaan/sifat kebenaran dan hubungan

E adalah kebenaran logikal (atau salah)

E adalah sebuah analitik

E adalah bertentangan

E membutuhkan E’

E secara semantik mengisyaratkan E’

Ringkasnya dapat dikatakan bahwa domain dari teori semantik paling sedikit sejumlah kekayaan/sifat dan hubungan yang terdaftar dalam (26); kita tidak seharusnya puas dengan teori semantik dari Bahasa Inggris yang gagal untuk menjelaskannya (atau untuk menjelaskannya).

Pertanyaan kedua menyangkut tujuan dari teori semantik adalah, bagaimanakah teori tersebut menangani sifat semantik dan hubungan ini? Jenis paksaan apa dari teori semantik yang beralasan untuk ditentukan? Kita akan menyebutkan hanya dua. Pertama, secara umum diakui bahwa meskipun bahasa harfiah berisi prase dan kalimat dalam jumlah yang tidak terbatas (lihat chapter 5), teori semantik dari keharfiahan bahasa harus terbatas: orang memiliki kemampuan untuk menyimpan hanya sejumlah informasi yang terbatas, namun mereka belajar semantik dari bahasa harfiah. Paksaan yang kedua dari teori semantik dari bahasa harfiah adalah itu harus menggambarkan fakta bahwa, kecuali untuk idioms, ekspresi pengubahan—kata lainnya, bahwa arti dari unsur pokoknya dan hubungan grammatikalnya. Mengubahnya kedalam kenyataan bahwa jumlah terbatas dari kata-kata yang tidak asing dan ekspresi dapat digabungkan dan digabung ulang untuk membentuk jumlah tidak terbartas dari phrase novel dan kalimat. Disini, sebuah teori semantik yang terbatas

Keberadaan pengubahan adalah lebih dramatis ketika ekspresi pengubahan dibedakan dengan ekspresi/ungkapan pengubahan . Pada (27) ungkapan kick the bucketmemiliki dua arti:

(27)

a. John menendang keranjang

b. John menendang ember  kayu

c. John mati

(27)

Satu dari arti (27a) adalah pengubahan: itu ditentukan  oleh dasar dari arti unsur pokok kata-kata dan sinonimnnya dengan(27b). Arti lain dari (27a) adalah secara idiom dapat ditafsirkan sebagai (27c). Arti secara idiom adalah tidak mengubah pikiran yang ditentukan oleh arti dari unsur pokok kata dan hubungan secara grammarnya. Satu tidak dapat menentukan arti secara idiom dari (27a) dengann hanya mengetahui arti dari kata dan mencatat struktur grammarnya. Arti idiomatik harus dipelajari secara terpisah dari unit ini.

Itu akan menjadi sebuah kesalahan untuk berpikir dari perubahan ekspresi/ungkapan yg kompleks sebagai hal yang mudah dengan menambah arti dan referensi dari bagiannya. Untuk bentuk adjektif+noun seperti (28a), kadang-kadang menamah pekerjaan:

(28)

a. He was a bearded Russian soldier. =

B. He was Russian and bearded and soldier.

Tapi meskipun dalam menyusun sumbangann sintax dapat berliku-liku, sepeti (29), dimana kita tidak dapat dengan mudah menambah arti occasional=kadang-kadang, dan sailor= pelaut.

(29)

a. An occasional saior walked by. Tidak sama dengan:

b. *Someone who is sailor and occasional walked by.

Modifiers dapat menciptakan kesulitan lain, yang juga harus digambarkan dalam teory semantik dari sebuah bahasa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

Maret 2013
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

follow My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: