Fera Komalasari

Beranda » MY LIFE » CORE EVENT BAU NYALE 2013- Pantai Kute Lombok Tengah

CORE EVENT BAU NYALE 2013- Pantai Kute Lombok Tengah

Arsip

Kategori

Bau nyale adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan sekali dalam setahun di wilayah NTB yang pada umumnya bertempat di Pantai Kute Lombok Tengah, Pantai Lombok Timur  dan Pantai Sumbawa. Masyarakat NTB khususnya pulau Lombok mempercayai ‘Nyale’ atau lazimnya ‘cacing laut’ yang muncul sekali dalm setahun itu sebagai jelmaan putri mandalika. Putri mandalika adalah seorang putrid yang berparas cantik jelita dan diinginkan oleh banyak lelaki. Menurut legenda, karena banyak sekali yang menginginkan sang putri menjadi istri, maka terjadilah pertumpahan darah untuk memperebutkan hati sang putri. Pada suatu waktu, sang putri bingung. Ia tidak ingin rakyatnya bertempur dan mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkannya sehingga ia pergi menuju sebuah pantai yaitu pantai Kute Lombok Tengah dan menceburkan dirinya kedalam lautan. Ia berkeinginan agar semua yang ingin meminangnya tak bertempur dan masyarakat dapat merasakannya. Sehingga, tubuh putri mandalika, termasuk rambutnya, dapat dinikmati oeh semua masyarakat- dan ia menjelma menjadi ‘Nyale’ dalam bahasa sasak, atau cacing laut yaitu sekali dalam setahun. Nyale muncul kira-kira pada bulan Februari atau Maret. Pada tahun ini nyale muncul pada 2-3 Maret.

Tradisi ‘Bau Nyale ‘ memiliki sesuatu yang khas. Ada beberapa hal yang khas dalam tradisi nyale tersebut. pertama adalah ‘Bau Nyale’- atau menagkap nyale merupakan tradisi yang hanya terdapat diwilayah NTB. Sebagai sebuah tradisi, pemerintah kota Lombok tengah menyebarkan iklan dijalan-jalan untuk mengundang masyarakat memeriahkan ivent tersebut. Kedua,’bau nyale’ merupakan tradisi yang sangat menggiurkan. Sebenarnya, pada tradisi ini, bukan seberapa banyak tangkapan masyarakat pada cacing laut itu tetapi masyarakat diseluruh daerah sedang diperkenalkan keindahan pantai Kute yang berlokasi di Lombok Tengah tersebut. Bukan tanpa alasan, karena memang benar pantai Kute merupakan pantai yang sangat indah di Pulau Lombok dan merupakan tujuan wisata yang khas. Wisatawan  dapat menikmati pemandangan yang luar biasa, dan sebelum mencapai pantai Kute, wisatawan dapat mampir untuk melihat kekhasan Lombok melalui desa Sade. Ketiga, Sebagai destinasi wisata tahunan yang cukup dekat dari Bandara International- BIL Lombok.  Sebagai destinasi wisata yang hanya dapat dinikmati sekali dalam setahun, ‘Bau Nyale di Pantai Kute Lombok merupakan hal yang tidak boleh ditinggalkan. Pasalnya, nyale hanya dapat dilihat sekali dalam setahun. Sebagai wisatawan lokal ataupun mancanegara, tentu saja tidak begitu saja kehilangan moment sayang sangat berharga ini.

“Bau nyale tahun ini, benar-benar ramai dan tidak pernah terjadi seperti ini pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Lombok Tengah sampai kehabisan karcis bagi para pengunjung dan tidak ada alternative lain selain membiarkan para pengunjung masuk tanpa karcis. Dan ini benar-benar ramai”, Kata petugas keamanan yang terlihat sangat lelah mengamankan  motor-motor yang jumlahnya tak terhitung. Memang benar keadaan tahun ini diluar perhitungan. Karcis yang dipersiapkan pemerintah kabupaten, habis tak tersisa. Pada jam sebelas malam saja, pengunjung masih mengantri histeris hingga kilometer sepuluh dari pantai. Hal yang tak terduga dan diluar kendali benar-benar mengagetkan para pemburu nyale.

Segerombolan pengunjung yang berjumlah dua belas orang mengakui bahwa antrian ini sangat melelahkan. Padahal mereka berangkat jam setengah tujuh sore dari Mataram. Yang tak terfikirkan adalah mereka mendapat tempat parkir pada jam setengah satu malam dan itu adalah hal yang sangat disesalkan. “Seharusnya pemerintah kabupaten menyiapkan temapt parkir yang lebih. Bisa juga dipakai tempat parkir 1 km dari sini untuk mengantisipasi kejadian seperti ini. seharusnya hal ini difikirkan matang-matang sebelumnya. Pasalnya pemerintah kota sudah menyebarkan pamphlet ketempat-tempat yang dapat dijangkau pengunjung dan itu dalam jumalah banyak. Sekarang kejadiannya adalah, para pengunjung histeris tidak mendapat tempat parkir dan mengantri hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Ini membuat mereka geram dan mungkin dibenak mereka, mereka kapok untuk datang keseini lagi pada tahun berikutnya”, Salah seorang wisatawan mengakui.

Sistem yang kurang menguntungkan pengunjung menjadi hal yang sangat disesalkan para wisatawan. Tetapi setelah sampai dibibir pantai ataupun diatas perbukitan untuk beristirahat sejenak sembari menunggu jam 5 subuh untuk menagkap ‘nyale’, mereka tidak lagi terdengar mengeluh lelah karena apa yang ditawarkan oleh pantai Kute adalah keindahan alam yang sunggu mempesona yang pada saat itu dikerumuni oleh lautan manusia yang tak terhitung jumlahnya sehingga kelelahan mengantri selama berjam-jam terbayarlah sudah.

Lautan yang pada malam harinya berisi ombak-ombak yang cukup besar dan menempati hampir seluruh daerah pantai, berangsur-angsur mulai surut. Surutnya air laut ini dimanfaatkan oleh masyarakat. Mereka pada umumnya mengetahui bahwa air akan benar-benar surut pada jam 5 pagi dan itu adalah waktu perburuan yang tepat untuk menagkap ‘nyale’. Sebenarnya, pada pukul 4 subuh, pengunjung sudah mulai turun kelaut untuk menagkap nyale. Tapi belum terlalu banyak. Hal ini terlihat dari sinar senter yang digunakan dan dapat sisaksikan dengan jelas dari perbukitan dibibir pantai. Pada pukul 5, hampir semua pengunjung turun untuk memburu nyale. Mereka biasanya menggunakan perlengkapan sederhana. Bermodalkan jaring, senter dan tempat untuk menaruh nyale. Jika ingin tangkapan lebih banyak dan sempurna, jaring yang digunakan hendaknya berpori kecil dan senter yang digunakanpun hendaknya memiliki cahaya yang terang. Tentu saja itu membantu para pemburu nyale untuk mendapatkan tangkapan yang maksimal.

Pemandangan yang tak kalah seru adalah ketika pantai dipenuhi oleh lautan manusia yang berjuta-juta jumlahnya, dan turun kepantai hingga ratusan kilo meter dari tepi pantai untuk mendapatkan tangkapan yang banyak. Pemandangan yang menggiurkan adalah melihat ‘nyale’ yang berwarna-warni. Ada yang berwarna ungu, hijau, merah, coklat, dan lain sebagainya. Anehnya, ketika nyale ini sudah berada ditempat tangkapan atau biasanya botol, warna mereka hanya dua jenis saja, jijau dan coklat. Yang tak kalah mencengangkan adalah nyale coklat lebih bertahan hidup beberapa jam dari nyale yang berwarna hijau. Sektirar pukul 8 pagi saja, nyale sudah mulai melebur dan akan benar-benar mati pada pukul 12 siang. Ternyata mereka hidup untuk mati….. uniknya, banyak para pemburu nyale, meburu nyale bukan untuk dimakan melainkan mengobati rasa penasaran mereka pada binarang laut yang berprotein tinggi tersebut. banyak pula yang tidak bisa memakannya lantaran rasa takut mereka pada postur nyale yang lebih mirip mie rebus berwarna-warni.

Gambar

Nyale- lebih mirip mie rebus berwarna warni

Gambar

situasi pantai yang ramai, berkurang setelah matahari mulai terbit- Core ivent bau nyale- Kute Lombok

Gambar

nyobain Nyale mentah-mentah…. rasanya lebih mirip cumi-cumiiiii

Gambar

Situasi dipagi hari….

By; Fera Komalasari


2 Komentar

  1. antonkill mengatakan:

    hiiii merinding sy lihatnya…
    tapi rame juga ya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya

Maret 2013
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

follow My twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: