Life Balance

Beranda » 2012 » Desember

Monthly Archives: Desember 2012

INGATLAH (Remember!)

Intgatlah, bukan tugasmu untuk mengusahakan agar orang mencintaimu, tapi tugasmu adlaah mencintai orang.

Percayalah pada keajaiban, tapi jangan selalu bergantung padanya.

Apa yang kau lakukan hari ini membuatmu lebih dekat ke tempat yang kau inginkan esok.

Jangan lupa, kita kelak akan dinilai berdasarkan apa yang kita berikan, bukan apa yang jita terima.

Ingatlah, kata-kata yang penuh kasih cepat menyembukhan.

Siaplah untuk menerima ketidaknyamanan sementara untuk mendapatkan kebaikan selamanya.

Bila kau dengar ucapan ramah tentang seorang teman, ucapkan demikian juga padanya.

APAKAH KAU MENYADARINYA? (Do You Realize That?)

Kita dilahirkan dengan dua mata dibagian muka, karenanya kita tidak boleh selalu menatap kebelakang, tapi seharusnya memandang apa-apa yang ada dihadapan kita, bahkan memandang jauh ke muka.

Kita dlahirkan memiliki dua daun telinga: kiri dan kanan, seharusnya kita mendenganr persoalan dari dua belah pihak, seharusnya kita bersedia menerima pujian dan celaan, lalu menetapkan mana yangbenar dari keduanya.

Kita dilahirkan dengan otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak. Meski tampak sangat miskin, tapi sesungguhnya kita kayak arena tidak ada seorangpun dapat mencuri isi otak kita.

Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, tapi satu mulut. Mulut bisa menjadi senjata yang tajam, ia dapat melukai, dapat mencumbu dan dapat membunuh. Kerenanya, sedikit bicara, benyak mendengar dan melihat.

Kita lahir hanya dengan satu jantung hati, terletak jauh dibawah tulang rusuk. Ini mengingakan agar kita menghargai dan memberikan cinta dari lubuk hati yang dalam. Belajarlah untuk mencintai dan dicintai, tapi janganlah kau berharap orang-orang akan mencintaimu seperti, atau sebanyak cintamu kepada mereka. Berikan cintamu tanpa mengharap balasan niscaya kau dapati cinta menjadi lebih indah.

KESALAHAN (Mistake)

Bila tukang cukur membuat kesalahan, itu disebut model rambut yang baru.

Bila supir membuat kesalahan, itu disebut kecelakaan.

Bila dokter melakukan kesalahan, operasi terpaksa dilakukan.

Bila seorang insinyur melakukan kesalahan, terjadilah suatu proyek baru oenuh tantangan.

Bila suami istri melakukan kesalahan, muncullah generasi baru.

Bila politisi membuat kesalahan, jadilah undang-undang baru.

Bila ilmuan melakukan kesalahan, muncullah penemuan baru.

Bila penjahit membuat kesalahan, jadilah itu mode baru.

Bila guru membuat kesalahan, timbullah teori baru.

Bila boss melakukan kesalahan, jadilah itu kesalahan karyawan.

Bila karyawan membuat kesalahan, itu disebut KESALAHAN!

PEMIKIRAN YANG MEMBANGKITKAN ILHAM (Some Inspiring Thoughts)

Setiap orang mudah marah dan itu mudah dilakukan. Namun untuk bisa marah kepada orang yang tepat, dengan ukuran yang tepat, untuk tujuan yang tepat dan dengan cara yang tepat tidaklah mudah.

Melesdatlah kau kebulan, bila kau melesat darinya, kau akan berada diantara bintang-bintang.

Kursus singkat dalam hubungan masyarakat:

Enam kata yang paling penting: I admit I made a mistake (aku mengakui aku telah melakukan kesalahan)

Lima kata yang paling penting: you did a good job (kau telah melakukan pekerjaan yang baik)

Empat kata paling paling penting: what is your opinion? (bagaimana pendapatmu?)

Tiga kata paling penting: if you please (bila kau tak keberatan)

Dua kata peling penting: thank you (terima kasih)

Satu kata paling penting: we (kita)

Satu kata paling penting (aku)

Banyak orang ingin naik limosin bersamamu, tapi yang kau inginkan adalah orang yang bersedia naik bus bersamamu ketika limosin itu mogok.

Jaga pikiranmu, ia dapat menjadi ucapan

Jaga ucapanmu, ia dapat menjadi perbuatan

Jaga perbuatanmu, ia dapat menjadi kebiasaan

Jaga kebiasaanmu, ia dapat menjadi watak

Jaga watakmu, ia dapat menjadi nasib.

Bila kau punya satu sen, aku punya satu sen lalu kita bertukar uang, maka kau punya satu sen dan aku satu sen. Bila kau punya satu ide, dan aku punya satu ide lalu kita bertukar ide (pendapat), maka kau sekarang punya du aide dan aku sekarang punya du aide.

Bila kau merasa akan kalah, maka kau kalah

Bila kau merasa tidak berani melakukan, meka kau tidak akan melakukan.

Bila kau ingin menang tapi merasa tidak mampu, maka hampir dapat dipastikan kau tidak akan menang. Perjuangan hidup tidak selalu berpihak kepada lelaki atau wanita yang lebih kuat, tapi cepat atau lambat, yang menang adalah mereka yang merasa mampu memenangkan.

NASIHAT CHRISTIAN D.LARSEN

Sehubungan dengan keyakinan akan sikap optimis, Christian D. Larsen memberikan nasihat berikut agar kau menjadi orang yang berarti:

Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu.

Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal.

Senyumlah pada setiap orang.

Gunakanlah waktumu sebanyak mungkin untuk meningkatkan kemampuanmu sehingga kau tidak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain.

Jadilah kau trlalu besar utnuk menjadi khawatir dan terlalu mulia untuk meluapkan kemarahan.

Satu-satunya tempat dimana kau memperoleh keberhasilan tanpa kerja adalah hanya dalam kamus.

NASIHAT ELEAN ROOSEVELT

Banyak orang keluar masuk kehidupanmu, tetapi teman sejati adalah yang meninggalkan jejak dihatimu.

Untuk menangani dirimu, gunakanlah kepala.

Untuk menangani orang lain, gunakan hatimu.

Kemarahan (anger) sebenarnya merupakan mara bahaya (danger) yang kekurangna satu huruf.

Bila seseorang menghianatimu sekali, itu adalah kesalahannya.

Bila ia menghianatimu dua kali, itu adalah kesalahanmu.

Pikiran besar mendiskusikan ide-ide (gagasan)

Pikiran sedang mendiskusikan kejadian-kejadian

Pikiran kerdil mendiskusikan orang-orang.

Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak.

Ia yang kehilangan teman, kehilangan kebih banyak.

Ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.

Pemuda/I yang cakep adalah kejadian alami

Tapi kakek/nenek yang cakep adalah karya seni.

Belajarlah dari kesalahan ornang lain, umurmu tak cukup untuk membuat semua kesalahan itu.

Hari kemarin merupakan sejarah. Hari esok merupakan misteri. Hari ini merupakan karunia.

NASIHAT DOROTHY L.NOTLE (Children Learn What They Live)

Jika anak dibesarkan dalam kecaman, ia akan belajar menyalahkan

Jika anak dibesarkan dalam permusuhan, ia akan belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dalam ketakutan, ia akan belajar menghwatirkan masa depannya

Jika anak dibesarkan dengan belas kasihan, ia akan belajar menyesali dirinya

Jika anak dibesarkan dalam olok-olokan, ia akan belajar menjadi pemalu

Jika anak dibesarkan dalam kecemburuan, ia akan belajar iri hati

Jika anak dibesarkan dalam aib, ia akan belajar merasa bersalah

Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia akan belajar bersabar

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia akan belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dalam restu persetujuan, ia akan belajar menyukai dirinya

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia akan belajar memiliki cita-cita

Jika anak dibesarkan dalam suasana saling memberi, ia akan belajar murah hati

Jika anak dibesarkan dalam kejururan dan keadilan, ia akan belajar tentang kebenaran dan  keadilan

Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia akan belajar mempercayai dirinya sendiri dan orang-orang yang ada dilingkungannya

Jika anak dibesarkan dalam persahabatan,  ia akan belajar mengetahui bahwa dunia adalah tempat nyaman untuk dihuni

Jika anak dibesarkan dalam ketentraman, ia akan belajar memiliki pikiran yang damai

Dalam keadaan manakah anak-anak anda dibesarkana?…..

HAL-HAL KECIL (The Little Things)

Batu-batu kecil bisa menjadi gunung besar

Langkah-langkah kecil bisa menyusuri bermil-mil

Perbuatan kecil dengan penuh kasih

Membuat dunia tersenyum lebar

Kata-kata kecil meredakan persoalan besar

Pelukan kecil bisa mengeringkan air mata

Lilin kecil bisa menerangi kegelapan

Kenangan kecil dapat mengendap bertahun-tahun

Impian kecil bisa mengantar pada kejayaan

Kemenangan kecil  bisa mengantar pada keberhasilan

Hal-hal kecil dalam kehidupan

Bisa mendatangkan kebehagiaan yang besar

Terimakasih untuk hal-hal kecilmu

Critic Reviewof The Implementation of Teaching Vocabulary in Indonesia at Secondary Level

Tang, Eunice, Hilary Neci. Teaching Vocabulary in Two Chinese Classrooms School Children’s Exposure to English Words in Hong Kong and Gungzhou City. University of Hongkong and Centre for English Language Teacher Education, University of War Wick: Language Teaching Research 7.1 (2003); pp.65-97

Fera Komalasari. VA. E1D010002. English Department. Morning Reguler. 2012. FKIP. Mataram University

I.SUMMARY

This article consists of the distinction in lexical richness between Hong Kong and Guangzhou secondary school English language classroom.

In Guangzhou classroom more words were explicitly taught, but learners were exposed to far fewer word types for incidental acquisitions. The teachers divide the material in to four categories, those are: review, presentation, exercise, and consolidation. The teachers are few in oral explanation, stiff in language teaching approach. They use explicit approach to deliver the vocabulary to students. Before they start teaching, they draft the vocabulary which is planned before. It’s systematic syllabus where the syllabus according to school textbook. The result is Guangzhou students have fewer lexical acquisition and low language acquisition as the fact that they get fewer from the year they learn, and fewer in English explanation text.

In Hong Kong Language classes, the teachers choose the material which will be taught according to students need. They just planned to teach explicit vocabulary just for reading teaching. The syllabus was made by the teacher where it is a flexible syllabus. A quarter of school in Hong Kong use English as introduction. The students have easy access to get English. The result is Hong Kong English class are riches in lexical than Guangzhou. It’s according to the conclusion of vocabulary frequent in two circles.

Guangzhou is close to Hong Kong and exchange and communication between the two provinces is frequent and easy. What makes them different are the teaching approach, syllabus design and the year they get in Learning English.

II REVIEW

The review aims to implement the vocabulary teaching in Indonesia from the main journal.

The clearest alternative to such a form-oriented approach is to emphasize meaning, and a range of approaches have been founded on more communicative language teaching activities (e.g. Harmer,1992). Such approaches have tended to give learners meaningful tasks to transact, in the expectation that:

• learners will thereby be pushed to develop their underlying interlanguage systems, incorporating new language forms and achieving control over them (Swain, 1995)

• balanced skills in the foreign language will result, embracing not simply accurate language use, but also significantly improved fluency (Brumfit, 1984).

What are the teacher do in Hong Kong is teaching English in early ages-6. Where as we can see the result is very satisfied. Where in Guangzhou, student learn English in ages of 11, or earlier -6. There is no significant rules in what ages the learner should be taught.

The implication in Indonesian EFL teaching is that the government must deal with the research finding. Where now days, the issue of English lesson in Elementary level would not  activated. It is too far from what the result finding found. The government should arise and see the future step in ESL learning.

When the student enter the secondary level, they will have little vocabulary as what Guangzhou do.

Johnstone (1994) notes that the internalization of rules must always be central to any discussion of second language teaching and learning, stating that ‘without grammar control, whether based on implicit or explicit knowledge, there can be little if any systematic creativity or accuracy in language use’ (1994: 10).

We can see that student would learn grammar after they have lots of vocabulary

III CONCLUSION

In conclusion, The teaching of EFL in Indonesia should be begun from early ages, 6 or less. The teaching of vocabulary and other concern are very important in early stage. It will be seen when the student enter the second level of education. The more time they learn English, the more input they will get . What teachers teach in classroom must be according to student needs.

IV REFFERENCES

Macrory, Gee and Valerie Stone The Manchester . 2000: Pupil progress in the acquisition of the perfect tense in French: the relationship between knowledge and use. Language Teaching Research 4,1; pp. 55–82

 

Foster, Pauline and Peter Skehan Thames Valley: 1999: The influence of source of planning

and focus of planning on task-based performance1. Language Teaching Research 3,3); pp. 215–247

CriticalReviw of MOTIVATING LANGUAGE LEARNER

Dörnyei, Zoltán, Kata Csizér Eötvös. Ten Commandments for motivating language learners: results of an empirical study. Thames Valley University and University, Budapest: Language Teaching Research 2,3 (1998); pp. 203–229.

Fera Komalasari. VA. E1D010002. English Department. Morning Reguler. 2012. FKIP. Mataram University

I SUMMARY

This article consists of Motivation which is related to important factor to the success of language learning process. The question arises here, how to motivate the language learner? Two hundred Hungarian teachers of English from various language teaching institutions were asked how important they considered a selection of 51 strategies and how frequently they used them in their teaching practice. Based on their responses we have compiled a concise set of ten motivational macrostrategies, which we have called the ‘Ten commandments for motivating language learners’. On the basis of the frequency data.

Ten commandments for motivating language learners:

1 Set a personal example with your own behavior.

2 Create a pleasant, relaxed atmosphere in the classroom.

3 Present the tasks properly.

4 Develop a good relationship with the learners.

5 Increase the learners’ linguistic self-confidence.

6 Make the language classes interesting.

7 Promote learner autonomy.

8 Personalize the learning process.

9 Increase the learners’ goal-orientedness.

10 Familiarize learners with the target language culture.

When trying to explain any success or failure in second language (L2) learning, the term ‘motivation’ is often used by teachers and students alike. We take the view that L2 motivation is one of the most important factors that determine the rate and success of L2 attainment: it provides the primary impetus to initiate learning the L2 and later the driving force to sustain the long and often tedious learning process. Without sufficient motivation, even individuals with the most remarkable abilities cannot accomplish long-term goals, and neither are appropriate curricula and good teaching enough to ensure student achievement.

II REVIEW

This review aims to show how the L2 motivation can contribute to the L2 learning process.

The role of motivation in SLA has been linked to attitudes, a n d research on attitudes and motivation has traditionally been associated with the names of Gardner and Lambert (1972).  They suggested a distinction between instrumental and integrative motivation and their work has strongly influenced research (e. g. G a r d n e r, 1 9 8 5 ;Au , 1 9 8 8 ;G a r d n e r, 1 9 8 8 ;D ö r n y e i ,l 9 9 0 ; Crookes and S c h m i d t , 1 9 9 1 ; Gardner and MacIntyre, 1 9 9 3 ; Gardner and Tr e m b l a y, 1 9 9 4 b ; D ö r n y e i , 1 9 9 4 a , 1 9 9 4 b ; Clément e t a l. , 1 9 9 4 ; C o l e m a n , 1 9 9 5 ) . Gardner and Tremblay (1994a: 524) referred to the renewed interest as the ‘motivational renaissance’ and claimed ‘what is needed is empirical research’.

The role of motivation is taking a major part. The using of commands take a great value in Language learning process. It deals with component aptitude.

The component of aptitude that has received the greatest focus over the last 30 years is that of memory. Recent work in cognitive psychology has led to the concept of working memory, replacing the traditional conception of static short-term memory in which the emphasis was on the ability to store information passively (Carroll, 1962). Working memory is responsible for both manipulating and temporarily storing information (Baddeley, 1999).

III CONCLUSION

In conclusion, motivation from the teacher is very important to language learning process to the successful of learning. The using of ten commandments take a major concern in L2 process.

IV REFERRENCES

Nikolov, Marianne: 1999. ‘Why do you learn English’ ‘Because the teacher is very short.’ A Study of Hungarian Children’s Language Learning Motivation. Janus Pannonious University: Language Teaching Research 3.1 ; pp. 33-36.

Erlam, Rosemary: 2005. Language aptitude and its relationship to instructional effectiveness in second language acquisition. University of Auckland. Language Teaching Research 9,2; pp. 147–171.