Life Balance

Beranda » 2012 » Juli

Monthly Archives: Juli 2012

PHONOLOGY EVIDENCE AND MOTIVATION

FINAL ASSIGNMENT OF PHONOLOGY 12 JULY 2012

PHONOLOGY

EVIDENCE AND MOTIVATION

  1. Pada konteks apa kedua evidance ini dibahas? Argumentasi apa yang diberikan dalam rangka pembuktiannya? (internal dan eksternal)
  2. Apakah argumentasi tersebut konsisten dengan pendapat anda?  Manakah rule yang benar, apakah itu dalam rangka pembuktian bahasa oleh linguist atau pembuktian rule oleh linguist? Tentukan posisi anda!
  3. Evaluasi, menurut jangkuan anda dimana kelebihan, kekurangan dari rule-rule tersebut. Posisi anda tentang argumentasi dimana. (contoh-contoh argumentasi, bahasa rusia, dsb ya memperkuat evidance). Kalau percaya ada rule, buktikan dengan argumentasi anda. Kalau tidak percaya ada rule, buktikan dengan argumentasi!

JAWAB

Key word:       Evidence                     Underling Representation-UR

 Motivation                 Phonolgical Representation-PR

Idiosincratic                Null Hipothesis

Corpus Internal           Corpus Internal

 

  1. Bahasa adalah sistem komunikasi yang terdiri dari sekumpulan bunyi dan simbol yang digunakan oleh orang atau sekelompok orang disetiap negara atau wilayah untuk berbicara ataupun menulis.

Pada chapter sebelumnya kita telah membahas tentang NULL HIPOTESIS dimana dikemukakan bahwa pada bahasa itu tidak ada rule-rule atau aturan yang mengikat dimana apabila terdapat contoh lain yang berlainan dengan contoh sebelumnya itu akan ditetapkan sebagai pengecualian (idosincratic) dan pengecualian itulah yang diingat oleh speaker. Ternyata disini linguist mencoba untuk membantah null hipotesis tersebut dimana dalam sebuah bahasa itu memang ada rule-rule yang mengikat bahasa tersebut. Disini, linguist menggunakan dua evidence untuk mengemukakan alasan-alasan untuk membuktikan bahwa rule dari bahasa  itu memang benar ada. Pertama adalah corpus internal evidence, dimana argumentasi oleh linguist itu berasal dari data dari bahasa yang linguist itu teliti (Corpus adalah data baik tulisan atupun lisan yang digunakan oleh linguist sebagai dasar untuk melakukan research). Ada tiga prinsip yang diberikan oleh linguist dalam corpus-internal evidence. Pertama adalah: Masing-masing morphem memiliki Underlying representation tunggal jika tidak ada pembuktian sebagai perlawanan. Posisi argumentasi linguist disini masih terkesan lemah. Mereka masih belum mampu menjelaskan morphem yang idiosinctatic. Perubahan morpem merupakan sebuah masalah. Mereka berasumsi bahwa perubahan ponetic dapat diperoleh dari UPR tunggal, kecuali kasus pelengkap seperti: go/went dan good/better dalam bahasa Inggris dimana hubungan ponetic antara alternant tidak adadan tidak ada aturan umum dalam perubahan ini.  Kedua, jika tidak ada pembuktian  untuk perlawanan, UR di sebuah morpem diasumsikan identik dengan PR. Anggap saja  pengguanaan konsonan p, t, k, s, n, dan r. assumsinya bahwa konsonan ini tidak memiliki kegagalan dalam distribusinya. Mereka terjadi diawal, ditengah dan diakhir.

Pat       sen       kustik   supan

Tik       rop       poster  rukip

Kus       naris    naris    tarasi

Ternyarnyata p terjadi secara bebas disemua posisi begitu juga dengan huruf konsonan lainnya.

Ketiga, segala sesuatu menjadi sama, solusi ponologi lebih disukai melalui sebuah solusi yang embagi lexicon menjadi kelas arbitrary (sebuah solusi lexical) atau melalui solusi yang mengelist konteks morphologikal/ sintactic dimana aturan itu diaplikasikan (sebuah solusi secara grammar).

Selanjutnya adalah Corpus External-Evidence. Argumentasi yang diberikan oleh linguist disini adalah tidak menurut data dalam bahasa itu sendiri, tetapi pengetahuan speaker tentang bahasa itu mencangkup foreign language acquisition, speech errors (slip of the tongue), systematic distortions of the language (permainan bahasa) dan sebagainya. Disini lebih sulit menganalisis eksternal evidence dari pada internal evidence. Misalkan saja pada kesalahan penggunaan bahasa oleh foreigner yang belajar bahasa asing. Pronunciation errors  sering tejadi. Assumsinya adalah bahwa orang memilih suara dari bahasa aslinya yang ia tuangkan kedalam bahasa yang baru ia dengar. Sehingga terjadi kesalahan yang sulit diprediksi oleh para linguist. Contohnya orang Prancis dan Serbo-Croatian dalam pengucapan “think” dan “these”. Orang-orang Prancis mengganti S dan Z dalam bunyi ini, dimana orang Serbo-Croatian menggantinya dengan t dan d.

  1. Apakah argumentasi tersebut konsisten dengan pendapat anda?  Manakah rule yang benar, apakah itu dalam rangka pembuktian bahasa oleh linguist atau pembuktian rule oleh linguist? Tentukan posisi anda!

Argumentasi tersebut konsisten dengan pendapat saya. Pada awalnya bahasa terbentuk sebagai tujuan komunikasi oleh sekumpulan orang. Saat bahasa itu diciptakan, sebenarnya belum ada aturan-aturan yang dgunakan. Manusia hanya menyebutnya saja. Misalkan kata pintu, jendela, sapu, kemudian mereka menyebut jumlah untuk menghitung jumlah benda-benda tersebut. Dalam perkembangannya secara tidak sengaja si penutur atau pencipta bahasa awal tidak menyadari bahwa didalam bahasa tersebut sebenarnya ada aturan yang mereka pergunakan. Semakin lama, maka bahasa itu memiliki aturan tersendiri seperti bentuk waktu past, present, future. Hingga akhirnya ada linguist yang menemukan didalam bahasa tersebut ternyata ada aturan yang dipergunakan. Jadi linguist ingin menguji pembuktian rule dalam bahasa itu sendiri. Linguist menganalisis bahasa, kemudian menemukan ada rule dari bahasa itu. Ia menguji aturan tersebut kepada bahasa yang ia teliti.

  1. Evaluasi, menurut jangkuan anda dimana kelebihan, kekurangan dari rule-rule tersebut. Posisi anda tentang argumentasi dimana. (contoh-contoh argumentasi, bahasa rusia, dsb ya memperkuat evidance). Kalau percaya ada rule, buktikan dengan argumentasi anda. Kalau tidak percaya ada rule, buktikan dengan argumentasi!

Didalam setiap bahasa tidak dipungkiri lagi bahwa memang ada aturan-aturan yang megikat bahasa tersebut. Rule-rule yang dikemukakan oleh para linguist memang benar. Dengan adanya rule-rule tersebut kita dapat mengkaji lebih jauh tentang bahasa itu sendiri. Kekurangan yang ada didalam rule itupun tak terelakkan lagi. Rule untuk bahasa yang satu mungkin tidak bias diterapkan dalam bahasa yang lain.  Contoh dalam Turkish Vowel:

Nom.sg.           gen.sg.             nom.pl.            gen.pl

  1. ‘rope”        ip                     ipin                  ipler                 iplerin
  2. ‘girl’           kᶤz                   kᶤzᶤn               kᶤzlar              kᶤzlarᶤn
  3. ‘face’         yϋz                   yϋzϋn              yϋzler              yϋzlerin
  4. ‘stamp’      pul                   pulun               pullar               pullarin
  5. ‘hand’        el                     elin                  eller                 ellerin
  6. ‘bell’          Čan                  Čanᶤn              Čanlar             Čanlarᶤn
  7. ‘village’     köy                   köyϋn              köyler              köylerin
  8. ‘end’          son                   sonun               sonlar              sonlarᶤn

Dari data tersebut maka kita dapat membuat sebuah rule dari bahasa tersebut. Adapun data tersebut setelah diuji ditemukan vowel harmony. Pada data plular, ternyata ditemukan vowel harmony dimana terjadi dua perubahan.

  1. A à ᶤ
  2. Eà i

Ipler à iplerin

kᶤzlar àkᶤzlarᶤn

perubahan pada singular

I – I

ᶤ – ᶤ

ϋ- ϋ

U-U

Tidak terjadi perubahan sama sekali karena memiliki fitur +high, maka suffix akan mengikuti vowel pertama pada steam.

E – i

a-      ᶤ

Ö – ϋ

O – u

Terjadi perubahan karena memiliki fitur high (-high). Bentuknya tidak beraturan maka disini vowel harmony diaplikasikan  pada alternant suffix (round menjadi nonround).

Maka dapat diformulasika rule:

[I, ᶤ, ϋ, u] à [I, ᶤ, ϋ, u]/­ ­__C

[e, a, Ö, u] à /__C

A à I /__C

E à  ᶤ/­­__C

Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa memang  memiliki aturan-aturan tersendiri.

Iklan

Compare and Contrast of Non-Verbal Communication Lombok with Japaness Culture

FINAL ASSIGMENT OF CCU

Compare and Contrast of Non-Verbal Communication Lombok  with Japan Culture

 

One culture is different from another culture, expecially in non verbal communication as one culture may have some similarities with the other culture. Since the culture are important to studies , non verbal comunication becomes apart of it. Japaness culture and lombok culture have some similarities and differenciation in non verbal communication. Non verbal  communication are so vital that japaness often trust non verbal massage more than the spoken words that can have several meanings. The context in which something is said afferts the meaning of the work .

The japaness enjoy a wide array of kinestetic activities, especially gestures ( candil and weinstein, 1969 : March, 1990, seward , 1983, sherman,1987) usage , however is situational and often limities to make ( Richie 1987) The similarities that’s are, when invited to someone’s house, the guest bring the foods to the host house, bowing someone, eye contact and frowning. The differenciation when the eye contact is used.

If we are limited to come to japaness house, it’s very common to bring a gift usually food. It shows the apreciatioin of the guest to the host. It’s same with lombok culture when a host invited guests to come to wedding party, expecially it calls” begawe” it’s an important for the guest to bring a gift to host house, for example: rice and suggar. It means thatthe guests trying to repay the kindness in a small way. Same with “ ommiyage” Ommiyage are souvenirs that brought after a trip, and ussually people quite a bit of money on it. And get omiyage just for people relative people, friend family  for example, the japaness went to lombok. They brought souvenir like tea of just hand gift like shirt. It means they tell the person that we appreciate things they did for us in the past and also sorry she /he couldn’t come with us. It can be a simple gift it same with lombok culture  when some one come to other place that’s a way from home, for instead mecca, they  tend to buy gifts from Mecca and give it to someone’s close like family friends of boy friend

If they japaness serve a food that we dont’t like we don’t need to come and say “ i don’t like this food” we can be gracious enough to accept it , and just not te eat it. If they are a good hosts or hostes they probably catch on if we want more tea or beer we don’t need to ask for it. The host will notice an empty glass and refill it.

In lombok culture, commonly  the host will point the foods with fire finger hand open up and nod the head if the host want the guest to start eat thefood and wanta the guest to add some more.The  guest will the head if they want the food  they nod the head with five finger horizontal opened out of the face which means is no thanks.

Bowing ( also called stooping) us tge act of lowering the body and the head as a social gesture in direction to another person  or symbol. Bowing is a gesture of respect. Different bows have different meaning. There are bows of apology and thanks, bows of greeting bowing in tea ceremony. The meaning of a bow  totally depends on the sittuation, dept and length of time it held. If they come from higher ranking is really important thing in japan. If they come from higher ranking, the japaness will talk more plitely, bow more deeply, and they may order sme food like the guest ordered. It kinds of politely bow are the only one of many way to show the respect to the other person.

Depends on the degree of bow, It has different meaning the nod bow’s degrees . it just a small bow of the head. Just let the head forward. Means for good friends and it’s me mosts casual bow of then all. There are different using to tenis bow when someone come from the higher  rank. They ussually use this bow to the person that bowing to him. The second is greeting bow, eshaku, it’s abaout is degrees thisd bow is similar with this buk . this is used when we know someone alot better. The third is  respect , bow kindly 30 degrees. This is for bowing gets respectful. For example this is used for boss / other people who are higher ranking than the people who bow first. This is not use with good friend

The fourth is highest  respect bow aikeirei, as degrees for example when we use the car , we hit someones car. This bow is used here. The last is kneeling bow. Touch the head to the floor. If some one flipping out at something  terrible he did really terrible this bow is used so . it’s very important to guess how old the people are. If they are older. The yhounger should tream them respectfully. The more formal the occasion the deeper and slower the bow. The age play an important part in bowing.

In this case, the people ussualy fry to get the bussiness card to identifity the position, profession or rank, so they know to show the respeck to another. When the people give the bussiness card, they hare to give with the two of hands. It shows a respect to other.

If we compare it witch Lombok culture, it has a litlle bit similarities in how do the people respect to the older or from the highher rank from them. In lombok culture, ussually pwoplw are use the hand/shaking hand with the other. Sometimes, the younger nod the head about less that 5 egress in count of second tho the older to show the respect. They use smile here. In sasak culture, the younger ussualy kiss the older’s hand when thwy are shaking,they put the hand to house. This is commonly used for horority to the older for some one that really important for her/him GambarLike : parent’r, older brother, older sister, teacher and people from high rank. To show the respect, ussualy younger people use the hand  close and let the mother finger stand alone. This is used when the people wqant to say “ yes please, with pleasure” or permit tho other to do some thing. Without words, the peopele use this way, nodding they had, and smiling to the other. It shows a big respect the younger or some one from lower rank to some one from higher rank.

The use of right and the left hand are also same with japansse culture. The righ hand indicate the politeness wher das the left hand is for unpoliteness.

As with non verbal thehariours, the eye behariours and facial expression are really cracial in japaness society. The japaness lessin eye contact. Stare thew lister eyes are rude way. In presentation, then the listeners close their eyes, it doesn’t mean that they don’t listen the speaker. It kinds politeness the colssing eyes means agree with the speaker words. Direct eye contant is avoided in japan. Prologed eye contact5 is considered rude , threating and disrespectful. The ussualy look down of look someones’s thoat.

In lombok culture the uses of eyes are work too, the younger should respect the other expecially parents when they are talking. When the parent’s are angry the children shouldn’t look at parents eyes. If the children shouldn’t look at parents eyes . if the children stare to parents eyes , means that the children are impolite to their parents. So it’s a good way to look down when they are angry. They direct eye contact can used every where. If it doesn’t in bad sittuation.

In conclusion, the body language hold an important way for politeness in lombok and japaness colture, it’s a good way to study  the body language to avoid a bad thinking  to other culture expecially in lombok  and japaness culture. They have lots of simmilarities and differenciates with in the non verbal communication.

References

http://japanlifeandreligion.com/2009/03/16/japan-and-non-verbal-communication/

http://www.shitoryu.org/heritage/bowing.htm

http://library.thinkquest.org/05aug/00723/index_files/Page357.htm

http://library.thinkquest.org/05aug/00723/index_files/Page357.htm

http://japanlifeandreligion.com/2009/03/16/japan-and-non-verbal-communication/

http://www.slideshare.net/dragon888/non-verbal-communication-russia-japan-and-china

http://www.kwintessential.co.uk/resources/global-etiquette/japan-country-profiles.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Etiquette_in_Japan

http://en.wikipedia.org/wiki/Bowing

http://www.tofugu.com/2010/07/12/bowing-in-japan-japanese-etiquette/

http://sasaknessspeaking.wordpress.com/2012/01/24/mengenal-budaya-lombok-sasak/

http://152.118.80.2/opac/themes/green/detail.jsp?id=80799&lokasi=lokal

http://lontarmadura.com/tradisi-macapatan-di-jawa-dan-madura/